Pertamina Terus Berupaya Jaga Ketahanan Stok BBM di Asmat

MONITOR, Jayapura – Pertamina MOR VIII terus berupaya menjaga ketahanan stok BBM di Kabupaten Asmat sebagai bentuk dukungan atas penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di daerah tersebut.

“Alhamdulillah kapal pengangkut BBM  dari Jobber Timika sudah tiba pada pukul 4 sore tadi di SPBU di Agats dan esok hari pun akan ada kapal yang tiba di Atsi” ujar Eko Kristiawan  Unit Manager Communication & CSR Pertamina Marketing Operation Region VIII Maluku Papua. Pertamina memastikan Stok BBM di Kabupaten Asmat akan aman sampai 22 hari kedepan serta akan terus menjaga kontinuitas distribusi di wilayah tersebut. Terdapat 8 Lembaga Penyalur yg terdiri dari 7 SPBU Kompak dan 1 SPBU khusus Nelayan di Kabupaten Asmat dengan harga jual Premium Rp.6450 dan Solar Rp.5150 sesuai Perpres.

Konsumsi utama masyarakat di kabupaten Asmat adalah produk Premium untuk transportasi sungai menggunakan perahu kecil/speed boat. Sehingga relatif tidak ada penggunaan BBM untuk kendaraan darat karena kontur Kabupaten Asmat berupa sungai dan rawa.

Pertamina akan terus berkoodinasi dan bekerjasama dgn Pihak terkait untuk memastikan distribusi BBM di Asmat dan wilayah lainnya berjalan lancar. “Kami senantiasa berupaya maksimal untuk selalu menjaga ketahanan stok di seluruh lembaga penyalur, pada intinya kami ingin berbuat sesuatu yang berdampak baik untuk seluruh masyarakat di wilayah Papua” tukas Eko.

Pertamina MOR VIII juga melaksanakan program jangka panjang selama setahun di tahun 2018. Program tersebut meliputi pemberian bantuan tambahan asupan gizi dan pengadaan faslitas pelayanan kesehatan berupa speedboat. Penyaluran bantuan ini dikoordinasikan dengan Polda Papua.

“Jumlah bantuan yang disalurkan selama setahun kedepan meliputi bantuan kesehatan dan infrastruktur penunjang layanan kesehatan dengan rincian tambahan asupan gizi untuk balita dan ibu hamil di tiga titik lokasi setiap bulan, serta pengadaan kapal speedboat untuk ambulance dengan total bantuan sebesar 1,8 miliar rupiah," tutup Eko.