Penjelasan Pengamat terkait Penyebab Naiknya Harga Pertalite

MONITOR, Jakarta- Dipublikasikan di website resmi PT Pertamina sejak 24 Maret 2018 lalu, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertalite telah mengalami penaikan. 

Penaikan harga Pertalite tersebut dinilai perlu dilakukan, pasalnya, selain penyesuaian terhadap harga minyak mentah dunia yang merangkak naik, nilai kurs Rupiah juga kian melemah terhadap dolar.

"Ketiga faktor penentu kenaikan harga BBM ini mengharuskan perubahan harga, saat ini minyak mentah terus naik, ditambah nilai rupiah juga menunjukkan kecenderungan melemah," ujar Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi kepada MONITOR (26/3).

Mengutip data Bloomberg, Fahmi menuturkan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional haru ubu sebesar US$ 65,88 per barel versi WTI Curde Oil pada hari ini. Sementara untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurut data Bank Indonesia saat ini berada pada level Rp 13.780.

Dengan begitu, kata Fahmi,  Pertamina memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan penaikan harga, pasalnya sejauh ini perusahaan plat merah tersebut dinilai telah optimal dalam mempertahankan harga sebelumnya. Namun, harga bahan baku kian meningkat tajam. "Sepenuhnya itu hak Pertamina, ini merupakan mekanisme pasar," tandas Fahmi.

Menurut Fahmi, naiknya harga Pertalite tidak akan berpengaruh pada perekonomian masyarakat, sebab Premium dan Solar telah dijamin tidak naik hingga akhir 2018. Ia juga bercaya bahwa harga Pertalite tidak akan menurunkan daya beli masyarakat terhadap bahan bakar yang khas dengan warna hijaunya itu.

"Kenaikan harga bertujuan, agar BUMN tetap bisa bertahan untuk menyediakan BBM dengan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan konsumen dalam negeri," terangnya.

"Satu satunya yang bisa dilakukan Pertamina adalah efisiensi. Sedangkan variabel harga minyak dunia dan kurs rupiah, tidak bisa dikontrol oleh Pertamina dan untuk pemerintah dapat mengendalikan inflasi dan menguatkan rupiah agar harga BBM agar tidak meroket" pungkasnya.