Pengamat: Ambilalih Blok Mahakam Tantangan Sekaligus Peluang Bagi Pertamina

MONITOR, Jakarta – Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi mengatakan, pengambil alihan Blok Mahakam merupakan peluang dan tantantangan bagi Pertamina, sekaligus sebagai pertaruhan bagi pencapaian kemandirian energi negeri.

"Pertamina harus bisa membuktikan kemampuannya sebagai champion, tidak hanya dalam memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan pengelolaan Blok Mahakam, tetapi juga memenangkan pertaruhan dalam mencapai kemandirian energi," katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (31/12).

Lebih lanjut Fahmy menerangkan, sejak 2008 lalu, Pertamina berulang kali mengajukan usulan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengelola Blok Mahakam secara mandiri sekaligus mengutarakan kesanggupan investasi untuk meningkatkan produksi. Namun menteri ESDM kala itu, Jero Wacik lebih memilih untuk memperpanjang kontrak E&P Indonesia daripada menyerahkannya kepada Pertamina lantaran alasan teknologi dan SDM.

"Untungnya, sebelum kontrak Blok Mahakam diperpanjang, Pemerintahan SBY telah berakhir. Berbeda dengan Jero Wacik, Menteri ESDM era Jokowi lebih mengakomodasi usulan Pertamina ," terang Fahmy.

Saat itu, Sudirman Said awalnya memutuskan untuk memberikan 100 persen saham kepada Pertamina, sekaligus sebagai operator tunggal Blok Mahakam sesuai dengan permintaan perusahaan plat merah tersebut. Namun, Pertamina malah menawarkan kembali penguasaan 30 persen Blok Mahakam kepada E&P Indonesia. Lagi-lagi Sudirman Said mengakomodir keinginan Pertamina untuk melakukan share down 30 persen tersebut.

"Entah keinginan Pertamina atau desakan kuat dari Total E&P Indonesia dalam perundingan B2B, Pertamina kembali mengajukan ke Menteri ESDM Ignasius Jonan untuk menaikkan share down saham Blok Mahakam menjadi 39 persen, alasannya yakni untuk capital and risk sharing. Pasalnya, investasi di hulu migas selain membutuhkan modal investasi yang besar dengan pengembalian dana investasi dalam jangka panjang, juga memiliki tingkat resiko yang tinggi," tutur Fahmy.

Lebih lanjut, untuk mengakomodasi permintaan tersebut, Jonan mengajukan 3 syarat yang harus dipenuhi Pertamina; pertama, kendali pengelolaan harus dipegang Pertamina dengan 51 persen saham dikuasai Pertamina dan 10 persen Participating Interest (PI) diberikan kepada Pemerintah daerah; kedua, tidak boleh ada penurunan volume produksi migas pasca pengambil alihan Blok Mahakam; ketiga, Pertamina harus meningkatkan efisiensi unruk menurunlan cost recovery per unit. 

"Menteri Jonan tidak mensyaratkan share down saham ditawarkan ke Total E&P Indonesia. Secara B2B, pertamina bisa menawarkan share down kepada investor selain Total E&P Indonesia, yang dinilai lebih menguntungkan bagi Pertamina," jelas Fahmy.

Menurutnya, untuk memenuhi ketiga persyaratan dari Menteri Jonan itu, Pertamina telah mengantisipasi penurunan produksi Blok Mahakam selama masa transisi. Diantaranya yakni dengan meningkatkan jumlah pengeboran dari 6 hingga 19 sumur dengan biaya yang disiapkan sebesar Rp 2,34 triliun.

Kendati masih share down, menurut Fahmy, pengambil alihan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesia ke Pertamina tetap menjadi "preseden baik" bagi energi negeri. Ditekankannya Pertamina  harus mampu menjadi champion dalam setiap pengambil alihan lahan migas. "Pertamina diharapkan lebih mampu mengelola lahan migas di negeri sendiri yang lebih menguntungkan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai amanah konstitusi. Jika gagal, sebagai business entitiy Pertamina akan semakin terpuruk," tandasnya.

Untuk diketahui, Pemerintah memutuskan untuk mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam setelah kontrak yang berjalan selama lebih dari 50 tahun itu berakhir pasa 1 Januari 2018. Pengelolaannya kemudian diserahkan kepada Pertamina sebagai representasi negara.

Blok Mahakam sendiri terletak di lepas pantai Kalimantan Timur, merupakan lahan minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia, dengan cadangan awal 1,68 miliar barel minyak dan 21,2 trilion cubic feet (tcf). Setelah di eksploitasi oleh Total E&P Indonesia, cadangan masih tersisah masih sebesar 57 juta barel minyak, 45 juta barel kondensat dan 4,9 tcf gas. Dengan cadangan sebesar itu, tidak mengherankan Total E&P Indoneaia berusaha menguasai Blok Mahakam dengan perpanjangan kontrak