Oleokimia, Industri Potensial Pendongkrak Ekonomi Riau

MONITOR, Riau – Berdasarkan data BPS sampai September 2016, tercatat nilai ekspor produk hilir sawit sebesar USD13.3 miliar atau telah melebihi nilai ekspor minyak dan gas bumi. Produk hilir mencapai 54 jenis. Secara rata-rata tahunan, sektor industri kelapa sawit hulu-hilir menyumbang USD20 miliar pada devisa negara.

Dalam bidang industri pengolahan, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri sawit global untuk keperluan pangan, non-pangan, dan bahan bakar terbarukan. Kemenperin mencatat, Indonesia berkontribusi sebesar 48 persen dari produksi CPO dunia dan menguasai 52 persen pasar ekspor minyak
sawit. Hal itu diungkapkan Kepala BPPI Kemenperin Ngakan Timur Antara.

Cabang industri potensial yang dapat dikembangkan dari kelapa sawit adalah oleokimia. Ngakan menjelaskan, jenis produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi sejumlah industri hilir baik untuk kategori pangan maupun non-pangan. “Ke depan, pengembangan industri pengolahan komoditas unggulan lokal akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau seiring menyusutnya komoditas migas,” ujarnya.

Industri oleokimia dinilai sebagai sektor yang strategis karena selain memiliki keunggulan komparatif melalui ketersediaan bahan baku yang melimpah, juga memberikan nilai tambah produksi yang cukup tinggi yakni di atas 40 persen dari nilai bahan bakunya.

Oleh karena itu, pembentukan BPPSI Pekanbaru bertujuan pula untuk meningkatkan daya saing industri melalui pelayanan standardisasi. Selain itu, membantu industri dalam analisis kebutuhan teknologi, analisis pasar dan pengembangan produk.

“Dalam hal pengadaan teknologi, BPPSI akan didukung oleh Unit Pelaksana Teknis lain yaitu Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi Industri yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia,” ungkap Ngakan.

BPPSI Pekanbaru didorong agar dapat bekerjasama dan bersinergi dengan instansi-instansi di daerah untuk melihat dan memetakan potensi yang dapat dikembangkan. Untuk itu, perlu dibangun jejaring kerjasama dengan pihak perusahaan, asosiasi industri, dunia usaha, dan lembaga riset baik di dalam maupun luar negeri.