Mentan Puji Desa TKI yang Kini Jadi Sentra Peternak Sapi

MONITOR, Indramayu – Upaya Kepala Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu untuk menyulap desanya yang semula lumbung TKI (Tenaga Kerja Indonesia) menjadi sentra ternak sapi rupanya menarik perhatian Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Begitu terpesonanya Menteri Amran dengan terobosan Kades tersebut, hingga ia berharap agar desa-desa lain mencontoh desa tersebut.

"Saya berikan apresiasi kepada Bapak Kuwu (sebutan untuk kepala desa di Indramayu dan Cirebon) selaku Kepala Desa di Desa Majasari ini karena telah berperan aktif dalam mengembangkan desa ini, sehingga desa yang awalnya sebagian besar penduduknya menjadi TKI, sekarang telah beralih menjadi peternak sapi," kata Mentan saat mengunjungi desa yang kini menjadi sentra peternak sapi itu, Kamis (23/11). Salah satu yang dikunjungi yakni Kelompok Tani (Poktan) Peternakan Sapi Tunggal Rasa di Desa Majasari.

"Sungguh luar biasa semangat yang dimiliki Pak Kuwu, semoga desa-desa yang lain dapat mencontoh di sini," puji Mentan lagi. Bukan tanpa alasan, kekagumannya itu atas loncatan populasi kelopok peternak yang cukup pesat.

Menyambut pujian Mentan, Kuwu Majasari Wartono menceritakan, kelompok peternak yang ada diwilayahnya mula-mula menerima bantuan Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) Tahun 2013 dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian sebanyak 32 ekor. Selanjutnya melalui APBNP tahun 2016 Kementan memberikan penambahan indukan lokal sebanyak 13 ekor. Dengan begitu hingga saat ini jumlah ternak telah berkembang menjadi 211 ekor, dengan sapi yang dipelihara yitu jenis PO, Limousin, Simental dan Brahman.

Ketua Kelompok Tani, Slamet Styadi menyampaikan, perkembangan pesat tersebut juga diperoleh peternak dari hasil pelaksanaan pembibitan sapi yang dilakukan dengan inseminasi buatan (IB). "Melalui program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) dari Pemerintah juga telah membantu peternak dalam program pembibitian di kelompok ini," ungkap Slamet.

Kuwu Wartono juga menyampaikan, Kelompok Tani di daerahnya termasuk Tunggal Rasa memiliki potensi usaha di bidang peternakan sapi potong karena didukung oleh banyaknya limbah pertanian untuk diolah menjadi pakan ternak yang berkualitas. “Selain memiliki kebun rumput, anggota kelompok juga mempunyai kemauan untuk menerapkan teknologi pengolahan pakan dari limbah pertanian seperti jerami  untuk penyediaan pakan ternak”, ungkapnya

Menurut Wartono, kemajuan yang dimiliki oleh kelompok ternak sapi ini karena ketua dan anggota telah mengikuti beberapa pelatihan antara lain pelatihan pengolahan limbah, pelatihan teknologi pakan ternak, pelatihan budidaya sapi potong yang diselenggarakan baik oleh Dinas Peternakan Provinsi maupun Kabupaten.

2016 lalu misalnya, telah dilakukan Gerakan Penanaman Indigofera seluas 2 Ha dengan memanfaatkan lahan yang tidak diproduksi lahan pertanian. Penanaman Indigofera ini merupakan program Gubernur Jabar dan didukung oleh Perguruan Tinggi yaitu UNWIR dan UNPAD.

 Penelitian tersebut mengenai pemanfaatan pakan olahan yang berasal dari limbah pertanian yang dicampur dengan indigofera.

“Dari hasil penelitian tersebut disampaikan bahwa terjadi penambahan ADG sebanyak 1,2 kg untuk sapi jenis PO yang diberikan pakan olahan tersebut”, ungkap Wartono.

Lebih lanjut dijelaskan, masyarakat juga sudah memanfaatkan teknologi tepat guna seperti pengolahan limbah (biogas), pengolahan limbah cair (POC), pembuatan kompos dengan bantuan APBD 2 kabupaten.