Kunjungi Aljazair, Arcandra Bakal Nego Harga LPG Murah untuk Pertamina

MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar akan melakukan kunjungan ke tiga negara. Kunjungan pertamanya jatuh di negara Aljazair.

Di Aljazair, ia akan melihat blok yang menjadi wilayah operasi dari PT Pertamina (Persero) disana seperti lapangan MLN di Algeria. Menurutnya, operasi produksi lapangan di Aljazair berjalan dengan baik.

"Ke Algeria melihat operasi Pertanian di gurun Sahara. Dalam kunjungan tersebut, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Operasi produksi di Algeria (Aljazair) berjalan dengan baik," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (13/3).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan berencana impor LPG oleh PT Pertamina (Persero) dari perusahaan minyak dan gas asal Aljazair, Sonatrach Oil. Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar minta Sonatrach Oil bisa memberikan harga LPG yang murah kepada Pertamina.

"Saya bicarakan untuk meminta adanya kemudahan kepada Sonatrach. Ekspansi dari facility yang ada, ada peningkatan produksi itu sedang di review kontraknya seperti apa," kata Arcandra.

Arcandra mengatakan pemerintah ingin Sonatrach memberikan harga yang spesial karena tidak ada pihak ketiga dalam proses impor ini. Selain itu, Arcandra juga meminta kemungkinan bisa atau tidaknya Pertamina memasang alat supaya LPG bisa di reinject ke dalam research imppresionnya.

"Dengan tarif negosiasi ada kemungkinan kita dapat harga yang lebih murah. Ada kemungkinan gas yang diproduksi sekarang mungkin gak Pertamina pasang alat," ungkapnya.

Saat ini, Pertamina melalui anak perusahaannya Pertamina International EP menjadi operator dengan hak kelola 65 persen di Lapangan MLN. Pertamina juga memiliki hak kelola di Lapangan EMK sebesar 16,9 persen dan 3,73 persen di Lapangan OHD.

Potensi yang bisa dijajaki memiliki produksi 20.000 hingga 30.000 barel per hari (bph) dengan total cadangan sekira 100 juta barel (MMbo). Dalam lain kesempatan, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan MoU tersebut menjadi kesempatan bagi perseroan untuk menambah aset hulu maupun mengembangkan bisnis hilir seperti gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dan liquefied petroleum gas (LPG).

"Kerja samanya akan dilakukan dengan skema business to businees antara Pertamina dengan Sonatrach. Pemerintah membantu untuk memfasilitasi. Angka impornya pun ada di Pertamina," pungkasnya.