Kondisi Finansial Buruk, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Monitor, Jakarta – Perusahaan Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia saat tengah mengalami masa sulit terkait dengan kondisi keuangan yang merugi yang didasarkan pada laporan kinerja tahunan perusahaan penerbangan plat merah tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, pada kuartal I 2017 Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar US$ 98,5 juta atau sekitar Rp 1,31 triliun (kurs 13.300). Padahal pada kuartal I 2016, perseroan mencatatkan laba US$ 1,02 juta. (Baca : Merugi Hingga Rp1,31 Triliun, Garuda Indonesia Bangkrut?

Menanggapi kondisi tersebut diatas, VP Corporate Secretary & Investor Relations Garuda Indonesia, Hengki Heriandono mengatakan bahwa bahwa secara kinerja operasional Garuda Airlines (GA) menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan capaian on time performance (OTP) yang tinggi.

"OTP sudah mencapai 84,4% per Q1 2017 dan GA berkomitmen untuk terus meningkatkan OTP. Seat Load Factor (SLF) juga mencapai 72%. Passenger carried mencapai 8,4 juta pax," Kata Hengki kepada monitor, Senin (12/6).

Hengki menambahkan bahwa selain pencapaian OTP, Garuda juga menerima beberapa apreasiasi dari dalam dan luar negeri.

Adapun terkait kerugian 1,3 T pada kuartal 1 tahun 2017, Hengki menegaskan bahwa hal tersebut lebih dikarenakan musim low season dan adanya kenaikan harga avtur yang cukup membebani perusahaan.

Untuk meningkatkan kinerja, saat ini manajemen GA tengah fokus pada lima quick wins priority yaitu : 1. Fleet cost optimization (optimalisasi biaya armada), 2. Service quality Level Improvement, (Peningkatan Kualitas layanan) 3. Routes Optimization, (Penyesuaian Rute) 4. Leverage Digital penetration (penetrasi digital) dan 5. Enhance Revenue Management System atau Meningkatkan Sistem Manajemen Pendapatan.

Advertisementdiskusi publik wagub dki