KLHK Bangun Reaktor Biomassa di Lampung Tengah

MONITOR, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membangun Reaktor Biomassa di Kampung Jatidatar Mataram, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (13/12) kemarin, sebagai Pilot Project Fasilitas Penyediaan Energi Biomassa untuk Masyarakat sekaligus menunjang program ketahanan energi nasional melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). 

Berdasarkan informasi yang dirilis British Petroleum diketahui bahwa, konsumsi energi mengalami pertumbuhan sebesar 5,7% pada tahun 2015 dan 5,9% pada tahun 2016. Dalam kajiannya, British Petroleum juga menyebutkan konsumsi energi Indonesia tahun 2016, adalah sebesar 41% untuk minyak bumi, batubara 36%, gas 19%, dan 4% sisanya merupakan kosumsi energi dari tenaga air dan energi terbarukan. 

“Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi energi utama di Indonesia masih didominasi oleh sumber daya alam dan hasil ekstraktifnya, sedangkan kita ketahui bersama jumlah cadangan sumber daya alam di Indonesia terus mengalami penurunan”, kata Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, dalam suatu kesempatan.

Sementara Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, Sinta Saptarina Soemiarno, mewakili Dirjen PSLB3 dalam peresmian fasilitas reaktor biomassa tersebut, menyampaikan bahwa, selain untuk mengurangi timbulan sampah, kegiatan ini memberi nilai tambah bagi masyarakat sebagai sumber energi. 

“Dua reaktor biomassa yang diresmikan hari ini, merupakan hasil kerjasama dengan Universitas Lampung dan berbagai pihak, dengan kapasitas masing-masing 10 ton/batch. Energi yang dihasilkan dari dua reaktor tersebut yaitu sekitar 154 m3/hari, atau setara dengan 61,6 kg gas elpiji, dan dapat digunakan oleh 20 kepala keluarga”, jelasnya.

Indonesia menargetkan pengembangan EBT sebesar 23% pada Bauran Energi Nasional tahun 2025. Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis, yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Potensi biomassa sangat besar di Indonesia, diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. Salah satunya adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang merupakan limbah padat terbesar industri kelapa sawit yaitu sekitar 27,6% – 32,5% selama proses.

Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan menjadikannya sebagai media jamur konsumsi, namun limbah TKKS sisa media jamur sulit didegradasi. Teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi limbah tersebut adalah dengan proses pengomposan anaerobic. Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2) dan asam organik. Gas metan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (biogas). 

Tahun 2018, sebanyak 6 (enam) fasilitas serupa akan dikembangkan di wilayah Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat. Pengembangan EBToleh KLHK ini merupakan wujud dukungan terhadap komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, sebagaimana yang telah disampaikan Menteri LHK siti Nurbaya di KTT ‘One Planet Summit’ di Paris.

Dengan hadirnya Reaktor Biomasa diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal, baik bagi lingkungan, produksi pangan dan energi, serta segi finansial. Dari sisi lingkungan, teknologi ini dapat mengurangi limbah padat, dan membentuk methane capture, sehingga gas yang terbentuk saat proses tidak terdispersi langsung ke udara dan tidak menyebabkan pemanasan global.

“Dari aspek produksi, teknologi ini menghasilkan media tumbuh jamur untuk Ketahanan Pangan serta menghasilkan energi bersih bersih berupa gas untuk Ketahanan Energi. Sedangkan secara finansial, dapat menambah penghasilan masyarakat dari hasil panen jamur dan penghematan bahan bakar”, ujar Sinta optimis.

Dalam kegiatan ini, turut hadir Bupati Lampung Tengah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Tengah, Rektor Universitas Lampung, Camat Bandar Mataram, Camat Seputih, Camat Way Seputih, Kepala Kampung Jatidatar Mataram, serta perwakilan PT. Lambang Bumi Perkasa, dan PT. Bumi Madu Mandiri.