Kisah Sukses Pendiri Tenun Ikat “Ina Ndao”

Yus Lusi, suami dari Dorce Lusi, pendiri Sentra Tenun Ina Ndao

MONITOR, Kupang – Membangun usaha bersama memang tidak mudah, butuh modal, ketekunan, keseriusan, dan konsistensi menjaga kualitas produk. Apalagi usaha bersama tersebut di bawah payung koperasi bisnis dengan anggota UKM pemula dengan pemahaman koperasi yang sangat minim.

Mengingat koperasi masih dianggap hanya sebagai sumber modal, tanpa berkontribusi lebih lanjut guna pengembangan usahanya.
Demikian tantangan berusaha menjadi lecutan bagi seorang Yus Lusi bersama sang istri, Dorce Lusi, pendiri Sentra Tenun Ina Ndao, beralamat di Jl. Kebun Raja II, Kecamatan Naikoten I, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bagaimana tidak, bermodal kocek Rp 20.000, Yus dan Dorce berani mendirikan usaha tenun Ina Ndao di tahun 1991. Modal sangat minim itu dipakai buat membeli benang sebagai bahan baku menenun. Siapa sangka, Ina Ndao kini telah mampu mendidik ribuan UKM tenun dan ‘meminjamkan’ modal usaha bagi 200-300 UKM tenun dengan besaran Rp 1 juta – RP 5 juta per UKM tenun setiap tahunnya di wiayah Kota Kupang dan sekitarnya.

Yus yang ditemui di Toko sekligus Sentra Tenun Ina Ndao, di Kota Kupang, Jumat (6/7) petang bercerita, awal mulanya memulai usaha tenun hanya bertiga, bersama istri dan seorang rekan lainya. Kemudian mertua dan sang ibu juga diajak Yus dan Dorce turut serta mengembangkan usaha tenun ikat tersebut.

“Memang di tahun-tahun awal penjualan sangat minim. Satu bulan mungkin laku satu-dua lembar kain saja seharga 50-6- ribu per lembar. Itu berjalan sepanjang tahun,” ungkap Yus, yang juga masih aktif sebagai ASN di Dinas Pertanian Pemprov NTT ini.

Namun, sentra tenun ikat Ina Ndao mulai bernapas saat krisis moneter, 1997. Saat itu ada pesanan dari Ikatan Wanita Buruh Indonesia sebanyak 200 lembar dengan harga Rp 500.000 tiap lembarnya. Inilah awal mula Yus mengembangkan sayap usaha tenun ikat bersama istrinya.

Dorce yang mempunyai keahlian menenun dengan percaya diri membuka pelatihan menenun kepada warga yang berminat.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat di NTT mendukung langkahnya ini.

Ina Ndao pun mendapat bantuan senilai Rp 2,5 juta dari PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian NTT. Kini, elatihan menenun telah dikelola secara serius di bawah wadah Lembaga Pendidikan Pelatihan Masyaraat (LP2M) ‘Seni Flobamora’.

Yus Lusi, suami dari Dorce Lusi, pendiri Sentra Tenun Ina Ndao

“Kita memulai pelatihan tersebut sejak tahun 1997. Tiap tahun, Ina Ndao menerima hingga lima angkatan kursus menenun. Dalam satu angkatan setidaknya ada 25 murid,” papar Yus seraya menambahkan bahwa pelatihan telah telah diperlaus ke beberapa wilayah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

“Nanti kita buka pelatihan tenun di Lapas Kupang, dan Agustus nanti kita kerjasama dengan Astra untuk melatih 10 sekolah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, selama 10 bulan ke depan,” imbuhnya.

Tak pelak, sejak berdiri 1991, sentra tenun ikat Ina Ndao telah melatih ribuan orang. Pelatihan yang diberikan mulai dari pemintalan, pewarnaan, desain motif, kelenturan kain, kerapian, dan proses menenun. Hasilnya, sentra Ina Ndao setiap bulan memproduksi 40 lembar kain, yang dihasilkan belasan penenun tetap. Belum termasuk produksi dari para binaan di 16 kabupaten/kota yang berjumlah ratusan lembar setiap bulan.

Satu lembar kain dihargai dari bahan baku, lama proses penenunan, keindahan, jenis benang, dan pewarnaan. Ada benang yang cepat luntur meski bahan baku dari pabrik. Harganya bervariasi, Rp 30.000-Rp 4.000.000 per lembar.

Di balik keberhasilan sentra tenun Ina Ndao, ada peran besar dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Ando yang didirikan Yus dan rekan UKM pada tahun 2003. Yus sadar, guna mendukung usaha UKM baru yang lahir pelatihan tenun Ina Ndao, tentu saja butuh modal. Apalagi UKM yang lahir dari rahim Ina Ndao jumlah mencapai ratusan.

“Jadi dengan 20 anggota yang adalah UKM tenun Ina Ndao, kami bersepakat mendirikan KSU Karya Ando dengan modal awal koperasi saat didaftarkan 20 juta rupiah. Lalu kita dapat modal dari Kementrian Koperasi sebesar 150 juta,” tutur Yus.

Dia bercerita, kendala terbesar yang dihadapinya untuk mengembangkan tenun ikat terletak pada kualitas sumber daya manusia. “Lebih banyak sumber dayanya yang malas tidak mau bekerja. Jadi untuk melestarikan tenun ikat juga tidak mau,” ungkapnya.

Padahal, Yus punya harapan besar, suatu saat nanti muncul sentra-sentra tenun ikat di berbagai daerah di NTT. Dia tak merasa tersaingi jika hal tersebut benar-benar terwujud. Sebaliknya, dia justru merasa senang karena kerja kerasnya mendapat dukungan dari banyak orang.

Melalui koperasi, Yus mengajak para pelaku UKM tenun yang mempuyai wawasan dan pemikiran yang sama dalam membangun usaha tenun di NTT. Sasaran awal tentunya UKM yang lahir dari rahim Ina Ndao. Sebab seski terhitung sudah ribuan UKM di NTT yang diajarinya menenun, Ina Ndao sadar betul tak semuanya berhasil mengembangkan tenun ikat.

“Dari sekitar 100 yang saya latih tiap tahunnya, maka ada 10 saja yang mengembangkan tenun ikat itu sudah lebih dari bagus,” ungkap dia.

Maka, para mantan UKM binaan yang mengembangkan tenun ikat di daerahnya itu selanjutnya bisa menjadi mitranya dan bergabung di KSU Karya Ando. Sehingga, jika Ina Ndao mendapatkan orderan dalam jumlah besar, dia akan mengikutsertakan para mitra perajin tersebut untuk menggarap di rumahnya masing-masing.

Memang, kata Yus, hubungan mitra binaan dan Ina Ndao tidak mengikat. Artinya, mitra binaan bebas menjual hasil tenun ikatnya kepada siapa saja, tak harus kepada Ina Ndao.

“Kalau harga jual ditawar lebih tinggi ditempat lain silahkan. Kalau lebih rendah dari Inda Ndao, silahkan jual ke kita. Tetapi syaratnya teta jaga kualitas. Kami tidak menerima sembarangan produk tenun,” jelas Yus.

Dia menambahkan, Ina Ndao pun tak khawatir bakal tersaingi dengan munculnya sentra penenun ikat di beberapa desa di NTT. Keinginannya untuk memasyarakatkan tenun ikat justru semakin cepat terwujud dengan keberadaan sentra perajin di banyak desa.

“Setiap daerah di NTT itu mempunyai motif tenun yang khas. Semakin banyak desa yang punya sentra penenun, berarti makin banyak pula pilihan motif tradisional tenun kami,” katanya.

Saat ini mitra-mitra Ina Ndao tersebar di sejumlah kabupaten di NTT. Antara lain di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Ende dan Flores Timur. Sementara di Ina Ndao sendiri, Yus mempekerjakan sekitar belasan penenun ikat.

Kini sentra tenun ikat Ina Ndao di Jalan Gunung Raja II, Naikoten I Kupang, tidak pernah sepi. Puluhan orang setiap hari datang dan pergi dari rumah, yang dilengkapi ruang produksi, toko, asrama, dan kelompok magang. Banyak UKM binaannya sudah mandiri. Tetapi, pihak Ina Ndao terus memantau proses tenun sampai akhir, untuk mempertahankan mutu dan kualitas tenun.

Satu UKM memproduksi kain tidak berkualitas, maka rusaklah citra tenun NTT secara keseluruhan. Apalagi kain tenun Ina Ndao sudah mejeng di pamerann di lima negara, baik dibiayai pemerintah daerah, atas undangan penyelenggara, maupun usaha sendiri.

Dalam sebulan, Ina Ndao bisa mencetak omzet hingga Rp200 juta. Dari keuntungan yang dia peroleh, Yus dan istri menyisihkan 10% untuk memajukan Ina Ndao, yang disebutnya sebagai sentra tenun ikat NTT.