Kinerja Indika Energy Semester I Tahun 2017

MONITOR, Jakarta – Perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk. (Perseroan) merilis Laporan Keuangan semester I tahun 2017 (H1 2017).

Setelah Laporan Keuangan Perseroan di kuartal I tahun 2017 (Q1 2017) menunjukkan kinerja positif, Perseroan kembali mencatat kinerja yang bahkan lebih baik di kuartal II tahun 2017 (Q2 2017).

“Ini merupakan hasil upaya turnaround yang Indika Energy lakukan sejak dua tahun terakhir dan sebagai dampak naiknya harga batubara. Hampir seluruh unit usaha Grup Indika Energy mencatat peningkatan signifikan,” tutur Arsjad Rasjid, Direktur Utama Indika Energy.

Sepanjang H1 2017, Perseroan berhasil membukukan Pendapatan US$ 453,0 juta, atau meningkat 27% dibandingkan US$ 356,6 juta di periode yang sama tahun sebelumnya.

Faktor utama meningkatnya pendapatan diantaranya berasal dari pendapatan Petrosea yang meningkat 22,4% berkat bertambahnya volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dari proyek Tabang dan Kideco Jaya Agung.

Selain itu pendapatan Tripatra juga meningkat 25,6% sebagai kontribusi pekerjaan engineering, procurement and construction (EPC) onshore di proyek ekspansi Tangguh (LNG Train 3) dari BP Berau. Selain itu, pendapatan dari bisnis perdagangan batubara juga melonjak 55,4% akibat naiknya harga jual batubara.

Laba Kotor H1 2017 meningkat signifikan sebesar 89,3% menjadi US$ 56,5 juta dibanding US$ 29,8 juta di H1 2016. Laba Usaha meningkat menjadi US$ 14,2 juta dibanding Rugi Usaha sebesar US$ 17,6 juta di H1 2016.

Salah satu faktor penting yang menyebabkan peningkatan laba Perseroan adalah turunnya Beban Umum dan Administrasi H1 2017 sebesar 10,9% menjadi US$ 42,3 juta dari US$ 47,4 juta di H1 2016 sebagai hasil positif dari inisiatif pengurangan biaya di seluruh perusahaan.

Sementara itu, Bagian Laba Bersih Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas meningkat drastis sebesar 179,2% menjadi US$ 73,3 juta berkat kontribusi produsen batubara Kideco Jaya Agung yang mencatat perbaikan harga jual rata-rata.

Hasilnya, Perseoran membukukan Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$ 51,2 juta dibanding Rugi US$ 22,4 juta di H1 2016.

“Ke depannya, kami terus membangun kemampuan organisasi dan operasi usaha melalui peningkatan produktivitas, pengendalian biaya, dan stabilisasi operasi. Dengan posisi keuangan yang semakin kuat, kami menjadi lebih siap dalam mengantisipasi peluang-peluang pertumbuhan bisnis,” tambah Arsjad.