Rupiah Kian Lemah, Tepatkah BI Naikkan Suku Bunga?

Ilustrasi gambar: Pixabay/Geralt

MONITOR, Jakarta- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di posisi Rp14.100 USD pada perdagangan di pasar spot Rabu (16/5) siang. Posisi rupiah naik 0,63 persen dari penutupan perdagangan kemarin diangka Rp14.037 USD.

Meski kurs rupiah melemah, Pengamat Ekonomi Bank Permata Josua Pardede mengatakan masih ada peluang bagi mata uang Garuda untuk menguat. Ia memperkirakan tingkat suku bunga acuan BI akan cenderung bertahan di level 4,25% pada RDG BI bulan ini, mengingat ekspektasi inflasi dapat terkendali ditarget sasaran BI.

Lanjutnya, kebijakan BI yang akan segera menaikan suku bunga acuan atau BI 7 Day Repo Rate (BI7DRR) yang sudah bertahan di level 4,25% sejak September 2017 bukanlah langkah yang tepat dalam mengatasi pelemahan nilai tukar.

“Meskipun BI memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga kebijakan, namun kenaikan suku bunga bukan satu-satunya instrumen moneter yang dapat berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah.” imbuhnya saat dihubungi Monitor. (16/5)

Jelas Josua, pelemahan nilai tukar terhadap dollar AS bukan hanya dialami oleh Rupiah saja namun seluruh mata uang negara berkembang dan mata uang negara maju. Sebab itu, menurutnya pelemahan mata uang garuda tidak bertahan lama dan bersifat sementara.

“Pelemahan rupiah terhadap dollar AS ini diperkirakan bersifat sementara, ini lebih didominasi oleh faktor eksternal sementara fundamental ekononi Indonesia cenderung masih kuat.” tutur dia.

Selain itu, dia juga menjelaskan dampak kenaikan suku bunga acuan BI pada perekonomian mengingat kenaikan suku bunga kebijakan BI akan direspon oleh kenaikan suku bunga perbankan termasuk suku bunga kredit yang berpontesi akan mendorong kenaikan cost of borrowing yang akan menahan upaya untuk memperkuat momentum pertumbuhan.

Sedangkan, Ekonom Senior INDEF Aviliani mengatakan ada dua hal yang perlu dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Pertama, pemerintah perlu menaikkan suku bunga hingga 50 bps.

“Karena kalo 25 itu kita sudah terlambat sih. Tapi kalau misal 50, paling tidak menahan untuk menahan capital outflow. Paling tidak kita juga sudah liat kan kira-kira The Fed ini kan menaikkan 75-100 basis poin. Paling tidak kalo kita sampai 50 itu sudah cukup bagus lah untuk menahan rupiah,” paparnya usai ditemui pada acara Perbanas, Jakarta.(15/5)

Lanjutnya yang kedua, menurutnya Bank Indonesia perlu mengatur capital outflow meskipun Non Deliverable Forward (NDF) telah memberi batas kenaikan hingga Rp14.300, namun hal ini juga untuk mencegah kepanikan masyarakat yang memiliki hutang luar negeri.

“Kedua mengatur capital outflow terutama orang yang punya banyak utang luar negeri kan jadi panik. Karena kalau rupiah sudah melebihi batas, meskipun sekarang kan sudah sekitar Rp14.300, NDF itu sebagai gambaran,” terangnya.

Untuk diketahui, berbalik dari rupiah yang melemah, mata uang negara di kawasan Asia terpantau kompak menguat pada pagi ini. Mulai dari renminbi China naik 0,01 persen, yen Jepang 0,03 persen, peso Filipina 0,21 persen, dan dolar Singapura 0,04 persen. Sedangkan beberapa mata uang Asia yang sejalan dengan pelemahan rupiah, seperti won Korea Selatan minus 0,6 persen, ringgit Malaysia minus 0,18 persen, dan baht Thailand 0,05 persen.