Masih Amankah Penurunan Nilai Tukar Rupiah bagi Perekonomian?

Ilustrasi

MONITOR, Jakarta – Merujuk kepada data yang dirilis Bloomberg saat ini rupiah di pasar spot melemah 0,4 persen, dengan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 14.043 per dollar AS. Fenomena ini menjadi posisi terlemah rupiah selama 28 bulan terakhir.

Dengan menurunnya nilai rupiah ini, pemerintah harus cepat mencari jalan keluar dalam merealisasikan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun 2018 sesuai dengan asumsi yang ditetapkan.

Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, nilai tukar diasumsikan pada APBN 2018 sebesar Rp 13.400 per USD, namun mirisnya posisi dolar sudah berada di level Rp 14.043. Seakan sebagai bumerang, BI diharapkan bersikap sigap antar memilih dua kebijakan. Membiarkan nilai kurs rupiah semakin merosot atau menaikan suku bunga.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dodi mengungkapkan level depresiasi rupiah masih pada taraf wajar. Ia menyebut level depresiasi rupiah Senin kemarin sebesar 0,40 persen.

“Secara perlahan harus dijelaskan bahwa rupiah masih wajar, dan sama dengan perkembangan mata uang regional, dan tidak pada level nominal yang kebetulan sudah menembus batas psikologis Rp 14.000,” ujar Dodi saat dihubungi MONITOR, Rabu (9/5).

Dodi menjelaskan upaya BI dalam menguatkan mata uang  garuda dari tekanan dolar AS yang perlahan mencengkik. Salah satu langkah yang diperbuat BI ialah dengan menjaga likuidiats rupiah dan valas, kedua BI akan terus melakukan monitoring perkembangan global dan asesmen dampak nya pada perekon domestic, lali perkuat 2nd line of defense.

“BI akan membuka ruang penyesuaian suku bunga jika pelemahan terus berlanjut dan berdampak pada instabilitas perekonomian.” paparnya.

Di tempat berbeda, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi, pergerakan rupiah dalam waktu dekat tidak akan jauh-jauh dari level Rp14.000.

“Range USD IDR hari ini berada di kisaran Rp14.000-14.200 per dolar AS,” ujarnya saat dihubungi MONITOR Rabu (9/5).

Menurutnya, pelemahan ini akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018. Adapun beberapa faktor yang membuat kurs rupiah ialah pertama investor melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat FOMC Juni mendatang setelah pengumuman data pengangguran AS sebesar 3,9% terendah bahkan sebelum krisis 2008.

“Spekulasi ini membuat capital outflow dipasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam 1 bulan terakhir. Spekulasi pasar jelang rapat Fed membuat sentimen investasi di negara berkembang khususnya Indonesia menurun.” Paparnya.

Lanjutnya, harga minyak mentah terus meningkat hingga 74-75 usd per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian Perang Dagang AS-China. Hal ini membuat inflasi jelang Ramadhan semakin meningkat karena harga bbm non subsidi (pertalite, pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar. Inflasi dari pangan juga perlu diwaspadai karena harga bawang merah naik cukup tinggi dalam 1 bulan terakhir.

Terakhir, Bank Indonesia terlambat merespon kenaikan bunga acuan. Jadi saran saya memang Gubernur BI harus lebih fokus pada mitigasi resiko pelemahan nilai tukar rupiah dan jangan cuma andalkan cadev.

“Harus lebih kreatif lah BI. Kan instrumen pengendalian rupiah cukup banyak. Sekarang kalau rupiah terus melemah dampaknya ke harga barang kebuthan pokok jelang lebaran lebih mahal. Ini juga mengganggu daya beli masyarakat. Potensi meningkatnya resiko gagal bayar ULN swasta jga perlu dicermati. Intinya harus ada respon yang terukur sehingga pasar kembali confidence. Jangan salahkan global saja” tukasnya.

Bhima juga memaparkan jika pelemahan rupiah terus berlanjut maka dampaknya cukup beresiko pada depresiasi rupiah yang akan langsung terasa ke biaya impor meningkat cukup tinggi.

“Untuk impor baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi sebagian besar gunakan kapal asing yang membutuhkan dolar jadi logistic cost pasti makin membebani industri domestik. Sementara daya beli sedang lesu, jadi penjual tidak akan sembarangan naikan harga barang. Kondisi ini menggerus pendapatan pelaku usaha.”jelas nya

Harga jual barang kebutuhan pokok otomatis juga akan naik. Ia ambil contoh bawang putih yang 85% lebih pasokannya impor. “Mendekati Lebaran permintaan secara musiman tinggi. Ini yang harus di perhatikan pemerintah karena inflasi langsung pukul daya beli masyarakat miskin.” Terang Bhima.

Sebelumnya, beberapa hari lalu saat ditemui di kantornya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kurs yang terlalu tinggi tidak bagus bagi dunia usaha.

“Artinya tentu saja bagi dunia usaha kurs itu enggak baik kalau terlalu tinggi. Kalau dampak ekonominya itu ya enggak buru-buru kalau dampak volatilitas keluarnya. Tapi dia akan cenderung mengganggu pengambilan keputusan di dunia usaha,” ujar Darmin.

Darmin mengatakan, kurs yang tidak stabil membuat pengusaha menahan diri dalam pengambilan kebijakan. Namun jika kurs dan volatilitas terjaga maka akan lebih mudah bagi pengusaha menentukan langkah ke depan.

“Kalau kurs stabil, pengambilan keputusan itu lebih mudah dan kalau ada volatilitas ya pengambilan keputusan sedikit lebih susah, karena orang kurang pasti ke depannya bagaimana,” katanya.

Sedangkan, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan pelemahan rupiah bisa memberi dampak ke APBN 2018. Namun saat ditanya lebih dalam terkait pengajuan revisi APBN 2018, dirinya memilih enggan untuk berkomentar.