Dua Langkah untuk Menahan Tekanan terhadap Rupiah

MONITOR, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jauh lebih rendah ketimbang negara lainnya.

Hingga 15 Mei 2018 nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp13.989 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini. Posisi ini melemah 0,11 persen atau 16 poin dari penutupan perdagangan kemarin di posisi Rp13.973 per dolar AS.

“Apabila dibandingkan Thailand, Turki itu kondisinya memang masih lebih berat dari Indonesia,” Kata Agus di Ritz Carlton, Jakarta. (15/5)

Pelamahan rupiah ini, Agus memastikan akan bekerjasama dengan stakeholder terkait dalam melakukan stabilitas nilai tukar Rupiah.

“BI akan bekerja sama dengan industri dan asosiasi, hal ini agar kondisi Rupiah dan valuta asing di pasar terjaga, sehingga membuat Indonesia bisa mengelola ekonominya dengan baik dan berkesinambungan,” jelasnya.

Menurut Agus, Rupiah terhadap dolar AS pada saat ini sudah tak sejalan dengan fundamentalnya. Hal ini disebabkan kondisi dinamika global yang lebih besar berdampak dibandingkan kondisi fundamental perekonomian dalam negeri.

“Melemahnya Rupiah sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Terkait hal tersebut, kita melihat kondisi global yang dapat berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Dinamika global ditunjukkan dengan siklus peningkatan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate yang meningkat, tren harga minyak dunia yang naik, meningkatnya risiko politik akibat sengketa dagang AS-Tiongkok, serta kondisi geopolitik yang meningkat karena kesepakatan nukliar antara AS-Iran yang dibatalkan.

Terkait kondisi ini, Ekonom Senior INDEF Aviliani menjelaskan ada dua hal yang perlu dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Pertama, pemerintah perlu menaikkan suku bunga hingga 50 bps.

“Karena kalo 25 itu kita sudah terlambat sih. Tapi kalau misal 50, paling tidak menahan untuk menahan capital outflow. Paling tidak kita juga sudah liat kan kira-kira The Fed ini kan menaikkan 75-100 basis poin. Paling tidak kalo kita sampai 50 itu sudah cukup bagus lah untuk menahan rupiah,” paparnya usai ditemui pada acara Perbanas, Jakarta.(15/5)

Lanjutnya yang kedua, menurutnya Bank Indonesia perlu mengatur capital outflow meskipun Non Deliverable Forward (NDF) telah memberi batas kenaikan hingga Rp14.300, namun hal ini juga untuk mencegah kepanikan masyarakat yang memiliki hutang luar negeri.

“Kedua mengatur capital outflow terutama orang yang punya banyak utang luar negeri kan jadi panik. Karena kalau rupiah sudah melebihi batas, meskipun sekarang kan sudah sekitar Rp14.300, NDF itu sebagai gambaran,” terangnya.

Selain itu, dengan diaturnya capital outflow diharapkan dapat meredam kepanikan masyarakat karena dikhawatirkan dapat menyebabkan penyimpanan dolar besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan.

Dia menambahkan, ini juga untuk menjaga fluktuasi yang terus bergerak agar ada keseimbangan antara capital inflow dan capital outflow. Karena dalam kenyataannya saat ini capital outflow lebih besar.

“Ini kan fluktuasinya terus menerus. harus dijaga antara capital inflow dan capital outflow, masalahnya ini banyak outflow dibandingkan inflow. Ini juga sebenarnya indikasi pasar, kan terhadap kenaikan subung. Jadi mungkin, semoga bsk RDG menaikkan suku bunga,” pungkas dia.

Sedangkan untuk cadangan devisa yang semakin terkuras, lanjutnya, bisa ditambal dengan pinjaman bilateral atau mengatur capital outflow. Adapun tercatat capital outflow di pasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam satu bulan terakhir.

Sebelumnya, kebijakan bank sentral AS yakni Federal Reserve yang menaikkan tingkat suku bunga acuan pada Maret menjadi salah satu sumber pelemahan nilai tukar rupiah. Akibatnya, pelaku pasar melakukan penyesuaian dan mengubah ekspektasinya terhadap mata uang Garuda hingga kurs menembus Rp14 ribu per USD.