Indonesia harus Tanggap dan Sadar hadapi Revolusi Industri 4.0

MONITOR, Jakarta – Dunia saat ini memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi industri dunia keempat ini ditandai masifnya perkembangan teknologi informasi. Aspek digital telah menjadi basis utama dalam kehidupan manusia. Ini dilihat dari proses bisnis yang kini dipercepat dengan adanya sistem online.

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat Fahmi Dzakky mengatakan berkurangnya lapangan kerja karena tergantikan perannya oleh dengan sistem robotic dalam revolusi industri 4.0 perlu diantisipasi bersama agar tidak menimbulkan gejolak sosial di masyarakat. Menurutnya, jika pemerintah tidak dengan cepat untuk mengkaji dan mencari solusi atas hal itu.

“Dan kita sebagai seorang mahasiswa seharusnya harus dapat bersinergi dengan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini,” katanya dalam diskusi yang dilaksanakan Keluarga Besar PMII Ciputat dengan tema “Menjawab Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Perkembangan Ekonomi Pasca- Revolusi Industru 4.0” di Rumah Makan Bumbu Desa Cikini, Rabu (6/6/2018).

Ditempat yang sama, Ketua Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), Christanto Wibisono mengatakan bahwa sudah sepatutnya kita harus sadar dan tanggap akan terjadinya revolusi industri 4.0 yang nantinya akan berdampak pada perubahan ekonomi dan perubahan nilai tukar rupiah.

“Kita ketahui bersama Bung Karno dan Soeharto jatuh karena tidak dapat menjaga nilai tukar rupiah agar stabil dan meningkat,” ungkapnya.

Christanto menambahkan, salah satu faktor untuk menyesaikan situasi tersebut adalah dengan cara memproduksi dan mengekspor agar kita mendapatkan surplus dan devisa sehingga nantinya akan membuat nilai tukar rupiah stabil dan meningkat.

“Kita harus dapat mengatasi persoalan ini, terlebih diprediksi Indonesia bakal menjadi empat besar pemegang ekonomi dunia,” tambahnya.

Senada dengan Christanto, enterpreneur dan pendiri “Rockets” Indonesia, Sabar Situmorang mengatakan bahwa saat ini ekonomi dunia sudah memasuki era digital, banyak dari enterpreneur mencoba untuk mencari keuntungan dari kemajuan teknologi. Tapi, perlu kita sadari produk hasil dari bisnis online hampir semuanya seragam.

“Sebagai seorang enterpreneur, seharusnya kita harus dapat berfikir jernih untuk mendapatkan ide dan gagasan mengenai bisnis. Saya mencoba untuk membuat produk dari benda atau bahan yang ada disekeliling saya, dan alhasil jadi mempunyai value yang tinggi. Berbisnis itu tentang kemandirian bukan tentang solusi dan inspirasi” Ujarnya.

Pengamat Sosial Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara menilai sejarah revolusi industri yang dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga industri 4.0 merupakan real change dari perubahan yang ada.

Menurut Robi, jika Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia, industri 2.0 ditandai oleh produksi massal dan standarisasi mutu, industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot, maka industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur.

“Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Hal ini menjadi sebuah kecemasan bagi masyarakat bawah yang dirugikan atas revolusi industri,” katanya.

“Mereka cemas apabila dengan adanya revolusi industri ini akan menjadi sebuah benalu yang menutup lahan pekerjaan. Karena melihat kondisi jaman yang nantinya akan semakin banyak perusahaan dan pabrik menggunakan pekerja robotik yang memang simple dan baik kinerjanya,” tegas Robi yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesian Moslem Crisis Centre (IMCC).