IA-CEPA, Tumpuan Ekonomi Indonesia-Australia

MONITOR, Jakarta – Perundingan IA-CEPA diharapkan menjadi titik awal kebangkitan hubungan ekonomi Australia dan Indonesia. Jika disepakati, IA-CEPA akan menjadi perjanjian perdagangan dan investasi bilateral kedua yang dinegosiasi Indonesia dengan sukses setelah perjanjian dengan Jepang di tahun 2008.

Indonesia yang berpenduduk 250 juta jiwa hanya menjadi mitra dagang ke-12 bagi Australia. Padahal kedua negara secara geografis bertetangga di wilayah yang secara ekonomi paling dinamis di dunia.

Pada 2 November 2010, Indonesia dan Australia sepakat untuk membentuk IA-CEPA. IA-CEPA merupakan bentuk kerja sama ekonomi yang komprehensif dan modern yang sifatnya bukan Free Trade Agreement (FTA) tradisional. Elemen penting yang ditekankan pada IA-CEPA adalah "kerja sama" dan "kemitraan".

Hingga tahun 2013 telah dilaksanakan dua kali perundingan, namun kemudian sempat terhenti selama tiga tahun. Perundingan IA-CEPA direaktivasi pada bulan Maret 2016 oleh kedua Kepala Negara. Selanjutnya, perundingan putaran ke-3 dilaksanakan pada bulan Mei 2016 di Yogyakarta. Yang terakhir pada bulan Oktober 2017 di Jakarta yang merupakan perundingan putaran ke-9.

Pada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Turnbull di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC Summit di Da Nang awal bulan November 2017, kedua Kepala Negara menegaskan kembali agar negosiasi IA-CEPA dapat diselesaikan di akhir tahun 2017 sehingga perjanjian dapat segera diberlakukan.

Tim perunding kedua negara saat ini lebih mengintensifkan pertemuan, dari yang sebelumnya bertemu secara resmi setiap empat bulan sekali menjadi dua bulan sekali, ditambah dengan pertemuan intersesi sesuai kebutuhan baik langsung maupun korespondensi.