Harga Batu Bara Tak Terkendali, PLN Terancam Kolaps

MONITOR, Jakarta – Melambungnya harga batubara yang menembus angka US$ 95,54 per metric ton per Januari 2018 dinilai berpotensi menyebabkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) kolaps alias bangkrut. Pasalnya sebagian besar pembangkit listrik PLN menggunakan energi batubara.

Menyusul hal itu, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengusulkan harga batubara sekitar US$ 85 per metric ton, khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam negeri.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesia Resources (IRES) Marwan Batu Bara menganggap harga yang diusulkan masih terlalu tinggi untuk PLN. Ia pun meminta negara hadir menengahi persoalan tersebut, bukan hanya untuk kepentingan PLN, melainkan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

"Intinya bahwa harga ini perlu diatur, negara harus hadir. Terakhir itu saya usulkan bukan cuma harga batu bara yang diatur untuk PLN, tapi juga keadilan bagi seluruh rakyat. Jika ada barang milik negara, milik rakyat seperti batu bara dan kekayaan sumber daya alam, maka yang menikmati harus semua," ujarnya saat ditemui dalam diskusi "Batu Bara Milik Siapa" di Menteng, Jakarta, Rabu (21/2).

Ya, melambungnya harga batubara menuntut PLN untuk melakukan penaikan  tarif listrik imbas dari tingginya bahan baku. Terlebih, tren harga batubara menurut Marwan akan terus berlanjut, dimana Februari ini Harga Batubara Acuan (HBA) akan kembali mengalami penaikan US$ 100,69 per metric ton. 

Namun, diketahui Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif listrik hingga Maret 2018, bahkan rumor yang beredar komitmen untuk tidak menaikkan tarif listrik tersebut berlanjut hingga 2019.

Untuk itu, Marwan menegaskan perlunya solusi dari pemerintah untuk menghadang kebangkrutan PLN. "PLN pasti tidak akan mampu menanggung sendiri beratnya beban tersebut. Indikasinya sudah jelas terlihat, dimana sampai September 2017 laba PLN tercatat Rp 3,06 triliun, jauh merosot dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp 10,98 triliun. Jika hal ini terus dibiarkan, bisa dipastikan kondisi keuangan PLN bakal kolaps," tandas Marwan.