Gubernur Bank Indonesia Klaim Fokus Stabilkan Nilai Tukar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (dok: finansial bisnis)

MONITOR, Jakarta –¬†Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini kenaikan suku bunga tak langsung berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bahkan sebagai langkah utama yang ditempuh otoritas moneter, BI akan kembali menaikan bunga acuan tambahan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu depan.

“Dalam konteks ini, memang dalam jangka pendek BI memprioritaskan kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Fokus kami jangka pendek kebijakan moneter stabilitas nilai tukar,” kata Perry di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (28/5).

Ia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan BI (BI 7-day Reverse Repo Rate) tak serta merta menghambat pertumbuhan ekonomi di kuartal yang sama saat kenaikan bunga acuan. Perry menjelaskan, kenaikan bunga acuan baru terasa beberapa kuartal berikutnya.

“Dampak kenaikan bunga kebijakan BI baru berdampak ke growth 1,5 tahun yang akan datang, empat sampai delapan kuartal, rata-rata enam kuartal,” kata Perry saat konferensi pers.

Ia mengatakan, pada RDG kedepan hanya akan fokus membahas upaya BI dalam menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar rupiah serta pencapaian target inflasi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa berdasarkan rapat terakhir Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), walaupun mengalami gejolak, status pasar keuangan di dalam negeri masih dalam tahap normal dan belum meningkat menjadi waspada.

“Kalau kami dari sisi makro misal nanti harus melakukan penyesuaian dan mengorbankan pertumbuhan ekonomi sedikit, kami akan terima,” katanya.

Di kuartal II-2018, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir menyentuh 5,15%, lebih tinggi dari kuartal-I 2018 yang sebesar 5,06% karena meningkatnya konsumsi rumah tangga. Sementara sepanjang tahun ini, BI perkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2%.