Gihon Telekomunikasi Indonesia Tawarkan Saham Perdana sekitar 200 Juta

MONITOR, Jakarta – PT. Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (Perseroan) hari ini menawarkan saham perdananya sebanyak Rp 200 juta saham, atau sekitar 33,49% dari modal yang disetor ke perseroan. Setelah melakukan penawaran umum, nilai nominal yang disepakati yakni Rp 1.100-1.300 setiap saham.

"Saham yang ditawarkan melalui IPO ini seluruhnya merupakan saham baru yang berasal dari portepel," ujar Rudolf P. Nainggolan selaku Direktur Utama Perseroan, di gedung UOB Jakarta, Jumat (2/3).

Ia optimis, bahwa potensi pertumbuhan perusahaan penyewaan menara telekomunikasi independen dapat meningkat signifikan, karena para operator utama seperti Telkomsel, XL Axiata dan Indosat Ooredoo tidak berfokus dalam membangun menara tambahan.

Ia menjelaskan, operator tersebut mengalihkan pembangunan Menara kepada perusahaan menara independen untuk mengurangi biaya belanja modal mereka. Rudolf berkeyakinan, bahwa hampir seluruh pertumbuhan menara baru akan diarahkan kepada perusahaan menara independen.

"Secara umum, kolokasi pada menara yang dimiliki oleh perusahaan menara independen lebih tinggi dibandingkan kolokasi pada menara yang dimiliki perusahaan telekomunikasi terutama karena independen dari perusahaan menara independen," jelasnya.

Sementara itu, Felix Ariodamar selaku Direktur Perseroan menjelaskan bahwa dana yang diperoleh dari Penawaran umum Perdana saham ini, setelah dikurangi biaya-biaya emisi saham, akan digunakan untuk pelunasan pinjaman Perseroan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan untuk Modal Kerja operasional Perseroan serta untuk Belanja Modal yang berkaitan dengan pembangunan sites telekomunikasi baru guna perluasan dan penambahan portofolio Menara telekomunikasi Perseroan.

"Saat ini, Perseroan memiliki dan mengoperasikan 443 menara telekomunikasi yang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia diantaranya pulau Jawa dan Sumatera. Portofolio Perseroan baik build-to-suit maupun kolokasi terus mengalami peningkatan sejak tahun 2014, seiring dengan bertambahnya jumlah menara dan jumlah penyewa," terangnya.

Diketahui, rasio kolokasi selama 3 tahun bergerak fluktuatif akibat peningkatan jumlah Menara yang lebih besar dari peningkatan jumlah kolokasi. Pada aksi korporasi ini, Perseroan menunjuk PT Indo Premier Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Perseroan dan penjamin Pelaksana Emisi Efek meremcanakan periode book building pada tanggal 28 Februari – 12 Maret 2018.