Empat Langkah Kemenperin Dukung Ekonomi Digital

MONITOR, Bandung – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, ada beberapa hal penting yang telah dilakukan Kemeneperin untuk mendukung era ekonomi digital dan Industry 4.0. Upaya tersebut, antara lain adalah penguatan sektor hulu, penguatan dan identifikasi rantai pasok global dan zona industri, penguatan akses pasar melalui program e-Smart IKM, serta mengusulkan pemberian insentif fiskal khusus untuk industri yang melakukan investasi di inovasi dan vokasi.

“Yang paling penting langkah-langkah tersebut akan mendorong entrepreneur, penguasaan market, dan pengembangan fintech. Kita tidak perlu khawatir digital ekonomi akan mengurangi lapangan kerja, karena online marketplace dan business process outsourcing (BPO) bisa melibatkan ribuan orang,” paparnya pada Peresmian Gedung BTP di Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1).

Untuk itu, Menperin meminta kepada generasi muda Indonesia agar bisa gaul dalam bahasa digital, seperti bahasa Inggris, statistik, dan koding. Materi tersebut bisa dipelajari dalam kurun enam bulan. Airlanga pun meyakini Indonesia siap menjadi solusi dalam digital ekonomi. 

“Pekan depan saya akan ke Davos, berbicara soal new future production of Indonesia, e-commerce market to market dan Industry 4.0 yang sifatnya industrial products. Saya akan sampaikan, Indonesia punya kesempatan untuk menjadi champion di Asia karena potensi besar dari pasar smartphone dan jumlah perguruan tinggi,” jelasnya.

Menurut Menteri Airlangga, produk telematika memberikan ruang pasar yang luar biasa di Indonesia seperti terlihat pada penjualan smartphone hingga 60 juta unit per tahun. Siklus teknologi sangat cepat, khususnya di smartphone, yang setiap enam bulan ada pembaharuan produk sehingga memerlukan kekuatan riset dan inovasi teknologi.

Oleh karenanya, pemerintah terus mendorong pengembangan produk-produk dalam negeri, seperti produk smarthphone. Hingga tahun 2018, terdapat beberapa merek nasional yang memiliki branding cukup kuat untuk pasar menengah ke bawah maupun menengah ke atas, seperti Polytron, Evercooss, dan Advan. 

Namun demikian, selain memacu tumbuhnya industri hardware, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan industri software, konten dan animasi. Hal ini diperkuat melalui penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 tahun 2017 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet. 

Artinya, Kemenperin tidak hanya menekankan pada skema TKDN hardware, tetapi TKDN software dan investasi. “Melalui skema software ini, kami ingin memacu untuk peningkatan inovasi dalam sehingga mendukung pengembangan industri yang berkelanjutan,” kata Menperin.

Kemenperin mencatat, industri telekomunikasi dan informatika (telematika) dalam negeri mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hingga tahun 2016, terdapat 23 electronics manufacturing service (EMS), 42 merek dan 37 pemilik merek baik global maupun nasional, dengan total nilai investasi sebesar Rp7 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13 ribu orang.