Dukungan Jasa Marga Terhadap Program GNNT Patut Diapresiasi

MONITOR, Jakarta – Sejak 14 Agustus 2014 lalu, Bank Indonesia telah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) degan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai. Harapannya masyarakat berangsur-angsur beralih menggunakan instrumen dalam kegiatan ekonominya.

Upaya BI tersebut diikuti oleh berbagai industri termasuk perbankan untuk menyediakan instrumen non tunai, seperti uang elektronik yang berbasis kartu atau chip based, atau yang berbasis server melalui smartphone.

Namun, pada perkembangannya animo masyarakat dinilai belum maksimal dalam menyambut GNNT, hal itu nampak dari jumlah pengguna transaksi tunai yang masih tinggi, dari 95 persen transaksi tunai pada 2014, hanya turun menjadi 89,7 persen pada 2015. Penurunan tersebut dinilai cukup kecil.

"Perlu ada yang membunyikan gong untuk menggaungkan Gerakan Nasional Non Tunai. Padahal, transaksi nontunai cukup potensial untuk mendukung target Bank Indoneia, yaitu menciptakan ekonomi yang inklusif," kata Peneliti Ekonomi dari Pusat Kajian Keuangan Negara (Pusaka Negara), Kartika Puty Andini.

Gong tersebut, lanjut Puty, 2017 ini telah digaungkan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, yang akan menerapkan sistem pembayaran nontunai di seluruh gerbang tol-nya. Perkembangannya pun dinilai cukup cepat, disosialisasikan dan diterapkan secara bertahap mulai awal September, hingga diterapkan 100 persen pada esok hari, yakni Selasa, 31 Oktober 2017.

"Langkah Jasa Marga dalam mendukung Gerakan Nasional Non Tunai ini patut diberi apresiasi, bukan hanya karena inovasi yang dilakukan, tapi juga kemudahan-kemudahan yang ditawarkan kepada pengguna jalan tol," terangnya.

Menurut data BPJT per 22 Oktober 2017, penetrasi transaksi nontunai jalan tol Nasionla kini telah mencapai 88 persen dari total transaksi. Menurut Puty, presentase yang demikian cukup positif, mengingat sosialisasi yang dilakukan cukup singkat.

Jelang 31 Oktober 2017 dan Kemudahan Bagi Konsumen

Tak lama lagi PT Jasa Marga (Persero) Tbk. beserta anak usahanya memberlakukan 100 persen transaksi non-tunai di seluruh gerbang tol, tepatnya pada tanggal 31 Oktober 2017.

Per 24 Oktober saja, penetrasi pembayaran non-tunai di gerbang tol Jasa Marga telah mencapai 92,5 persen, hal itu sebagai bukti bahwa animo pengguna jalan tol berbondong-bondong meninggalkan cara pembayaran tunai, yang kini jumlahnya hanya tinggal 7,5 persen.

MONITOR mencoba melakukan penelusuran untuk melakukan beberapa sesi wawancara dengan para pengendara taxi online di Jakarta terkait elektronifikasi jalan tol, khususnya di ruas tol Jasa Marga. 

Amir, 40 tahun, mengatakan elektronifikasi jalan tol memberikan kemudahan dalam bertransaksi, terutama dalam hal efisiensi biaya, dimana uang receh yang biasanya harus berserakan di dashboard mobilnya diakui kerap membuat dirinya tak bisa menghitung pasti biaya yang dikeluarkan dalam satu perjalanan.

“Masuk pintu tol biasanya kita buru-buru rogoh saku, rogoh dasbor, cari-cari uang receh, kalau kurang ya memecah uang 50 ribuan, itu justru kadang membuat kita boros, kembaliannya nanti keselip lah, jatuh lah, repot,” kata Amir saat melakukan perjalanan dengan MONITOR di ruas tol Jakarta-Tangerang, Sabtu (28/10).

Demikian juga Robi, 37 tahun, pengendara taxi online sejak awal tahun ini mengaku senang dengan adanya elektronifikasi jalan tol, antrean panjang di gerbang tol diakuinya memang berkurang. Terlebih di jam-jam pulang kerja di ruas tol Lingkar Luar Jakarta.

“Mudah sih tinggal tap jalan, saya sampai beli tongkat ini biar makin gampang, kalau kehabisan pulsa (saldo-red) memang masih bisa tunai di gerbang tol yang samping itu, nanti juga tinggal isi (top-up) di Indomaret. Kalau tanggal 31 nanti kata yang jaga (petugas gerbang tol) bisa isi pulsa di gerbang tol,” kata Robi sambil memacu kendaraannya menuju Bekasi, Jumat (27/10) malam.

Demikian kemudahan-kemudahan yang ditawarkan elektronifikasi jalan tol bagi penggunanya. Animo pengguna jalan tol yang demikian tinggi juga membuat PT Jasa Marga kian optimis dengan pendapatannya yang akan naik secara derastis pada 2018 mendatang.

Kemudahan Bagi PT Jasa Marga

Selain kemudahan yang dirasakan oleh konsumen jalan tol oleh elektronifikasi tersebut, Jasa Marga sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengemban tugas sebagai penyelenggara jalan tol juga mendapatkan kemudahan-kemudahan. 

Diantaranya yakni pemasukan yang lebih inklusif, tiadanya anggaran untuk uang kembalian hingga mencegah adanya uang palsu dalam transaksi di pintu atau gardu tol. “Yang penting kan lebih aman, kita tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian, tidak ada uang palsu ya segala macam, ya lebih easy dengan uang elektronik ini,” kata Direktur Utama PT Jasa Marga, Desi Aryyani di Kampusi UIN kemarin.

Selain itu, lanjut Desi, pasca penerapan 100 transaksi non-tunai di jalan tol nanti, pihaknya bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) lainnya akan bekerjasama dengan perbankan nasional terkait pengurusan dan pengumpulan uang tol. Nantinya akan terbentuk perusahaan pengumpul uang tol bersama atau Electronic Toll Colection (ETC).

Dengan begitu, BUJT yang selama ini masing-masing berurusan dengan pihak perbankan terkait uang tol, akan diwakili oleh ETC yang akan memfasilitasi semua BUJT. “ETC ini akan urus semuanya. Tidak perlu BUJT ke bank. Yang penting ETC profesional sehingga menjamin semua transaksi tepat sasaran. Perbankan urusannya cepat. BUJT segera dapat haknya,” pungkasnya.(Adv)