Cerita Petani Ngataru yang Sejahtera dari Sayur Mayur

Ladang cabai di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Ladang cabai di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur

MONITOR, Malang – Ngantru adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tersebutlah sebuah kelompok tani bernama Gemah Ripah 1. Puluhan pemuda tergabung dalam kelompok tani ini. Ketua kelompoknya, Yogiantoro, memang sudah berusia 55 tahun. Namun puluhan anggota yang dikelolanya rata-rata masih berusia 30 tahunan. Kelompok usia muda inilah yang giat-giatnya mengembangkan pertanian, utamanya sayur mayur, di Desa Ngantru.

Cerita menarik tentang semangat para petani, termasuk petani muda ini dijumpai saat Direktur Jendral (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian ( Kementan), yang diwakili Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikuktura (PPHH) Yasid Taufik, berkunjung ke Desa Ngantru, pada 6 Juni 2018. Salah satu petani muda yang ditemui bernama Agung Widodo, 33 tahun. Agung berkisah bagaimana berbagai jenis sayuran, termasuk cabai, menjadi andalan hidup bagi mayoritas rumah tangga di Ngantru. Pola tanam bergilir lazim dilakukan masyarakat Ngantru, mulai dari bertanam kentang, lalu bawang merah dan kemudian cabai.

Cabai yang biasa dibudidayakan oleh masyarakat Desa Ngantru adalah jenis lokal, yakni cabai Mhanu. Cabai ini menjadi andalan karena bisa bertahan lama, yakni sampai dengan tiga minggu di dalam lemari es. Cabai ini juga tergolong pedas karena masuk dalam golongan cabai rawit.

Biasanya, cabai ditanam dengan sistem tumpangsari, misalnya bersamaan dengan buncis, tomat atau sawi. Semua tergantung pilihan masing-masing dan jenis yang sedang digemari pasar. Agung bertutur bahwa dari tanaman hortikultura sayur-sayuran inilah masyarakat bisa hidup memadai.

Agung sendiri sudah menjadi petani sayuran, termasuk cabai, sejak 2008. Pilihan menjadi petani memang mantap ditekuninya. “Menjadi petani memang menjanjikan. Dari menanam sayuran, ternasuk, cabai, saya bisa hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga, ” papar lelaki beranak satu ini optimis.

Pilihan bertani bagi para pemuda Desa Ngantru tentu saja masuk akal. Berkaca dari keberhasilan petani senior yang sudah lebih berpengalaman dalam membudidayakan tanaman hortikultura, para petani muda bisa melihat bahwa bertanam sayuran bisa selalu menjadi sandaran hidup.

Salah satu petani Desa Ngantru berbincang dengan Rombongan Ditjen Hortikultura Kementan
Salah satu petani Desa Ngantru berbincang dengan Rombongan Ditjen Hortikultura Kementan

Kegigihan Agung dan petani lainnya memang menjadi catatan tersendiri. Saking semangatnya bertani, setiap jengkal tanah, termasuk pekarangan, tidak dibiarkan menganggur. Apa saja dicoba untuk ditanami. “Sampai-sampai oleh penduduk desa lain, kami ini dibilang serakah, karena apapun kami coba tanam, di manapun itu, ” tutur Agung terkekeh.

Inovasi dan kegigihan petani Ngantru juga diakui oleh salah seorang penyuluh pertanian, Evi Sriwidayati. Penyuluh berusia cukup muda ini menggambarkan betapa ia justru banyak belajar dari praktik pertanian yang dilakukan para petani Ngantru. “Saya tahunya teori. Pratiknya dari para petani. Klop sudah, ” jelas Evi senang.

Memang dari kunjungan ini bisa terlihat, bahwa kegigihan dan kreativitas adalah kunci untuk maju. Dalam konteks pertanian, resep tersebut telah membawa kehidupan yang lumayan layak bagi para petani Ngantru.

Semua ini memang bukan sekedar isapan jempol. Rombongan Ditjen Hortikultura Kementan sendiri menyaksikan deretan rumah para petani yang boleh dikatakan bagus dan menggambarkan standar kesejahteraan yang lebih dari cukup.

“Pertanian, termasuk hortikultura, memang ujung-ujungnya diharapkan pada kesejahteraan petani. Inilah yang selama ini didorong dan menjadi salah satu tujuan Kementerian Pertanian, ” pungkas Direktur Yasid, yang nampak senang menyaksikan keberhasilan para petani Ngantru.