Tol Soedijatmo Disebut Tulang Punggung Perkembangan Kawasan Aerocity

Ilustrasi gambar: Gerbang Tol Kamal I Tol Sedyatmo (istimewa)
Ilustrasi gambar: Gerbang Tol Kamal I Tol Sedyatmo (istimewa)

MONITOR, Jakarta – Ruas Tol Prof. Dr. Ir. Soedijatmo dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan pelayanan terhitung sejak 2016 lalu, hingga hasilnya dapat dirasakan para pengguna jalan tol yang menghubungkan antara ibukota dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut pada 2019 ini. Tak hanya itu, ruas tol yang dikelola oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sejak tahun 1985 itu saat ini tak hanya sebagai akses utama menuju bandara, melainkan juga berperan untuk menggerakan pertumbuhan kawasan disekitarnya.

Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Perkotaan dan Dosen Teknik Planologi Universitas Trisakti, Yayat Supriatna. Menurutnya, perkembangan Bandara Soekarno-Hatta sangat bergantung pada kondisi Tol Soedijatmo, dimana kawasan bandara kini telah tumbuh dan berkembang menjadi kawasan Aerocity, pada posisi tersebut Tol Soedijatmo menjadi tulang punggung pertumbuhan kawasan sekitarnya.

“Volume bangkitan perjalanan menuju Bandara saat ini telah melayani lebih dari 66 juta penumpang, diperkirakan pada tahun 2025 seiring dengan pengembangan Terminal IV Bandara Soekarno-Hatta akan melayani 100 juta penumpang. Lonjakan dan pertumbuhan yang sangat meningkat ini membutuhkan perhatian dan dukungan pemeliharaan yang maksimal agar pengguna jalan Tol Soedijatmo tetap memperoleh pelayanan sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang telah ditetapkan,” ujar Yayat di Jakarta, Rabu (6/3).

Berbagai upaya pemenuhan SPM Tol Soedijatmo telah dilakukan PT Jasa Marga sejak Oktober 2016 hingga saat ini, untuk layanan konstruksi diantaranya meliputi perjaan pemeliharaan _Scraping Filling Overlay_ dan rekonstruksi; Antisipasi genangan dampak curah hujan tinggi; monitoring kondisi saluran/drainase dan tanggul; normaliasai _reservoir_ Simpang Susun Penjaringan KM 26+000; _beautifikasi_ di ruas jalan tol; penataan lansekap pada area GT Kapuk dan KM 20+000 s.d KM 32+000; pemeliharaan penerangan jalan tol; pemeliharaan kebersihan gerbang tol dan gardu tol; serta pencucian lajur transaksi di gerbang tol.

Untuk layanan transaksi, Jasa Marga telah mengoperasikan 7 Gardu Tol OAB ( _Oblique Approach Booth_) di Gerbang tol Cengkareng untuk menambah kapasitas transaksi; pengoperasian 18 _Mobile Reader_ untuk meningkatkan kapasitas transaksi; melakukan integrasi tarif tol pada GT Kamal 1 dan 3, semula hanya mentransaksikan Tarif ruas Jalan Tol Prof Dr. Ir. Soedijatmo menjadi mentransaksikan dua tarif yakni Tol Soedijatmo dan JORR integrasi. Hal itu dilakukan guna mengurangi titik transaksi pada arah menuju JORR W1; pengoperasian 4 titik top up tunai: GT Cengkareng (2 unit), GT Kapuk (1 unit), GT Kamal 1 (1 unit); serta peningkatan kapasitas transaksi pada GT Kamal 1 yang semula 7 Gardu menjadi 9 Gardu Operasi.

Sementara itu, upaya pemenuhan SPM pada layanan lalu lintas juga dilakukan, diantaranya meliputi pengecetan marka jalan tol dan pemenuhan terhadap Permenhub No. 67 Tahun 2018; penyesuaian Rambu Petunjuk Arah Jurusan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.13 Tahun 2014; pengadaan dan pemasangan pagar rumija, pengadaan dan pemasangan _guard rail_ serta _reflektor_; melakukan penertiban kendaraan beban berlebih ( _Over Load_) secara berkala; pekerjaan beautifikasi di Gerbang Tol (pengecatan kanstin, _bullnose_, MCB, selasar) dan pengecatan _guardrail_; serta implementasi _Early Warning System_ Ruas Tol Sedyatmo (prioritas arah bandara).

Terkait upaya pemenuhan SPM, Yayat mengungkapkan, bukan hal yang mudah bagi Jasa Marga untuk melakukan hal itu, mengingat dukungan biaya operasional yang dikeluarkan juga cukup besar seiring dengan peningkatan volume kendaraan yang melintasi Tol Soedijatmo. Disisi lain, pengelola jalan tol harus memprioritaskan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan tol. “Untuk menjaga kualitas jalan yang prima, dan kondisi uang layak membutuhkan partisipasi masyarakat. Masyarakat butuh kecepatan dan kenyamanan, sementara jalan butuh kondisi yang prima. Sinergi kedua komponen ini menjadi hal penting demi menjaga kualitas jalan Tol Soedijatmo,” tandas Yayat.

Terakhir ia mengingatkan, Tol Sedyatmo saat ini telah menjadi penyangga utama antara fungsi bandara dengan kota-kota besar lain di Indonesia bahkan manca negara, gangguan perjalanan di ruas tol tersebut akan membawa dampak keterlambatan penerbangan ke berbagai wilayah. Untuk itu pihak pengelola dalam hal ini Jasa Marga harus mampu menjaga waktu tempuh dan kecepatan yang aman untuk pengguna Tol Soedijatmo.

“Menjaga agar waktu tempuh dan kecepatan membutuhkan tambahan teknologi dan informasi yang perlu melengkapi sistem pelayanan di Jalan Tol Soedijatmo. Untuk itu saat ini saya yakin PT Jasa Marga akan terus meng-upgrade sistem layanan di Tol Soedijatmo guna mencegah seminimal mungkin terjadinya gangguan dan hambatan perjalanan dari dan menuju bandara Soekarno Hatta,” pungkas Yayat.