Bantu Atasi Gizi Buruk, Pertamina MOR VII Bangun Posyandu

MONITOR, Makassar – Permasalahan gizi buruk masih menjadi masalah utama di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2017, status gizi buruk balita berdasarkan Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) sebanyak 3.8% balita mempunyai status gizi buruk dan 14% balita berstatus gizi kurang.

Di provinsi Sulawesi Selatan, persentase angka gizi buruk ini masih tinggi yakni 4.9% balita berstatus gizi buruk dan 17.9% balita berstatus gizi kurang, keduanya berada di atas rata-rata presentase nasional.

Sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan kasus gizi buruk di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VII Sulawesi melalui program Bina Lingkungan meresmikan bantuan pembangunan Posyandu Mandiri Teratai II di Kelurahan Pandang, Panakukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (07/07). Bantuan pembangunan Posyandu ini diberikan untuk pembangunan fisik Posyandu beserta instalasi jalur air dan listrik senilai Rp 110 Juta.

“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan perhatian Pertamina khususnya di bidang kesehatan. Saat ini, meski mengalami penurunan setiap tahunnya, kasus gizi buruk masih menjadi salah satu permasalahan utama di bidang kesehatan. Karenanya dibutuhkan upaya-upaya dalam penanganannya, salah satunya yakni melalui program Posyandu,” ujar Unit Manager Communication & CSR MOR VII, M. Roby Hervindo.

Bantuan pembangunan Posyandu ini diberikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam kemudahan pelayanan kesehatan di wilayah Kelurahan Pandang. “Sebelumnya, Pertamina telah melakukan survei dan menganalisa kondisi kebutuhan masyarakat setempat. Berdasarkan data yang diperoleh, Kelurahan Pandang memang termasuk yang membutuhkan layanan kesehatan, khususnya bagi ibu dan anak,” ujar Roby.

Dengan adanya Posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita ini, lanjut Roby, diharapkan dapat berdampak langsung untuk meningkatkan gizi anak khususnya bayi dan balita. “Melalui Posyandu, kontrol tumbuh kembang anak dapat dilakukan diantaranya yakni dengan pemantauan berat badan dan pemenuhan gizi sehingga dapat meminimalisir ataupun tidak lagi ditemukan kasus gizi kurang atau gizi buruk di lapangan,” jelasnya.

Selain itu, kehadiran Posyandu juga diharapkan dapat menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (ibu hamil), melahirkan dan nifas. “Posyandu ini juga akan dapat meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB), serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat dan sejahtera di wilayah tersebut,” ujar Roby.

Sementara itu, Camat Panakkukang, Andi Pangeran Nur Akbar, meyakini setelah adanya bangunan permanen yang layak untuk Posyandu di Kelurahan Pandang, ke depan pelayanan kesehatan untuk warganya akan lebih baik lagi. “Semoga posyandu ini memberikan manfaat khususnya bagi ibu-ibu yang memiliki balita. Kami berterima kasih kepada Pertamina yang telah merespons permohonan bantuan untuk membangun posyandu di Kelurahan Pandang dengan cepat,” tuturnya.

Hal senada diharapkan oleh dr. Irma perwakilan Dinas Kesehatan Kota Makassar. Dirinya mengatakan agar seluruh kader kesehatan dan para ibu PKK dapat meningkatkan pelaksanaan kegiatan kesehatan di wilayah Kelurahan Pandang. “Dengan adanya sarana bangunan Posyandu, diharapkan dapat meningkatkan semangat dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan kesehatan bagi ibu hamil, bayi dan balita,” ujarnya.

Kesehatan menjadi salah satu prioritas Pertamina dalam program bantuan Bina Lingkungan. Tidak hanya Posyandu, di wilayah Sulawesi, Pertamina juga telah memberikan bantuan program kesehatan lainnya yakni bantuan jamban sehat, pembangunan MCK umum, renovasi dan alat kesehatan bagi puskesmas/puskesdes/polindes, operasi katarak gratis serta bantuan kursi roda bagi penyandang disabilitas.

“Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, Pertamina telah menggulirkan dana bantuan Bina Lingkungan di sektor peningkatan kesehatan di wilayah Sulawesi sebesar lebih dari Rp 2 Milyar,” tutup Roby