BTN Siapkan Restrukturisasi Kredit Korban Gempa Sulteng

1003
Direktur Utama Bank BTN, Maryono

MONITOR, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mulai meracik skema restrukturisasi kredit bagi para debitur yang terdampak bencana alam gempa dan tsunami pada sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah.

Direktur Utama Bank BTN, Maryono mengatakan perlakukan khusus bagi para debitur ini akan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 45/POJK.03/2017 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Kredit atau Pembiayaan Bank Bagi Daerah Tertentu di Indonesia yang Terkena Bencana Alam.

Dalam peraturan tersebut jenis perlakukan khusus diberikan meliputi penilaian kualitas kredit atau pembiayaan syariah berdasarkan plafon kredit yang diberikan, dan kualitas kredit yang direstrukturisasi serta perihal pemberian kredit/pembiayaan syariah baru.

“Bank BTN sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Sulteng, khususnya para debitur kami karena itu perseroan akan memberikan restrukturisasi kredit dengan memperhatikan kondisi fisik serta psikologis nasabah serta situasi Sulteng ke depannya sehingga tidak memberatkan mereka,” katanya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data yang dikompilasi tim gabungan (Business Continuity Management-BCM) BTN, debitur kredit konsumer aktif di Sulteng tercatat 12.036 debitur dengan nilai kredit sekitar Rp 911 miliar, sedangkan debitur kredit komersial sebanyak 487 debitur dengan nilai kredit sekitar Rp139 miliar.

“Perseroan masih melakukan inventarisasi bagaimana keadaan debitur kami di Sulteng dan akan segera laporkan ke regulator sambil menunggu arahan selanjutnya mengenai langkah-langkah restruktrurisasi kredit,” paparnya.

Adapun restrukturisasi yang akan diberikan menurut Maryono, bisa saja mengacu pada restrukturisasi untuk korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Jenis restrukturisasi yang diberikan kepada para debitur yang terdampak gempa Lombok dilakukan Bank BTN dalam bentuk pemberian masa tenggang atau kelonggaran waktu untuk membayar cicilan pinjaman pokok maksimal dua tahun dan keringanan lain yang menyesuaikan kondisi debitur serta pemberian diskon untuk denda dan bunga sampai dengan 100 persen bagi debitur yang disetujui mendapatkan restrukturisasi.

“Tetapi ini akan dilakukan setelah tim Business Continuity Management menyampaikan inventarisasi dari hasil pengecekan mereka terhadap nasabah di lokasi gempa,” ujarnya.

Sementara itu, Bank BTN terus melakukan upaya pemulihan operasional dari outlet yang terdampak gempa.

Empat outlet perseroan sudah memberikan pelayanan terbatas yaitu Kantor Cabang Palu, termasuk Kantor Kas yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika di Kota Palu dan Kantor Cabang Pembantu Syariah di Kota Palu serta Kantor Cabang Pembantu di Luwuk.

Per 4 Oktober 2018, berdasarkan laporan tim BCM, sejumlah nasabah Kantor Cabang Palu dan Kantor Kas di Jalan Dewi Sartika sudah melakukan transaksi perbankan di counter dan ATM.

Untuk memudahkan nasabah menjangkau outlet Bank BTN, mobil kas keliling sudah dipersiapkan untuk melayani nasabah.

“Lima dari 13 ATM Bank BTN sudah online untuk melayani transaksi nasabah antara lain berlokasi di Kantor Cabang Palu, Kantor Cabang Syariah dan KCP di Luwuk. Kondisi ATM lainnya masih dalam proses pemulihan, karena ada yang masih terkendala akses,” tegas Maryono.

Untuk bantuan sosial, perseroan secara bertahap mengirimkan bantuan berupa makanan, selimut, obat-obatan, pakaian dan lain sebagainya ke Palu dan daerah lainnya yang terdampak gempa dan tsunami dengan bantuan yang mengalir nilainya telah mencapai sekitar Rp350 juta.