Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Harga Pangan saat Ramadan

MONITOR – Memasuki bulan Ramadan dan Idul Fitri yang ikut dibarengi dengan naiknya harga-harga terutama pangan, seolah menjadi tradisi. Kenaikan harga dipicu karena saat Ramadan ada kenaikan lonjakan permintaan pasar.

Sesuai dengan hukum supply-demand, saat ada tekanan di sisi permintaan dengan pasokan tetap, harga akan terpantik tinggi. Akhirnya, inflasi pangan yang tinggi saat Ramadan dan Lebaran dianggap sebuah kelaziman.

Presiden Jokowi sejak Maret 2018 sudah mewanti-wanti para menteri dan jajarannya untuk memastikan harga-harga kebutuhan pokok tidak naik.

Bedasarkan data yang dirangkum MONITOR, pada 2016 inflasi yang terjadi sebanyak 0,66% alias rendah. Sedangkan 2017, inflasinya 0,39%. Hal itu menandakan inflasi awal Ramadan yang rendah jadi modal penting inflasi Idul Fitri tahun 2017 yang ikut rendah sebesar 0,69%.

Minimnya gejolak harga bahan pokok selama Ramadan 2018 juga tercermin pada hasil survei pemantauan harga yang dilakukan Bank Indonesia (BI) hingga pekan III Mei 2018 atau sampai pekan pertama Ramadan.

Berbekal hasil survei tersebut, BI memperkirakan inflasi Mei 2018 mencapai 0,22% secara bulanan (month to month/ mtm) dan 3,24% secara tahunan (year on year/yoy). Bank sentral juga meyakini inflasi 2018 bakal terjaga di kisaran 2,5-4,5% (yoy).

Sejumlah tekanan inflasi, menurut BI, sudah mereda. Kelompok harga barang bergejolak (volatile food) dapat dikendalikan karena pasokan dan produktivitasnya memadai, yang didorong musim panen beberapa waktu lalu.

Pemerintah dan BI menargetkan inflasi volatile food tahun ini pada kisaran 4-5% (yoy), sehingga inflasi 2018 berada pada sasaran 3,5% plus-minus 1%. Jika perkiraan BI tidak meleset, berarti inflasi Ramadan-Lebaran 2018 memang tak sekuat inflasi Ramadan- Lebaran tahun-tahun sebelumnya.

Pada Mei 2017 (awal Ramadan 27 Mei), inflasi bulanan dan tahunan masingmasing mencapai 0,39% dan 4,33%, sedangkan inflasi Juni mencapai 0,69% secara bulanan, dengan inflasi tahunan sebesar 4,37%.

Untuk itu, stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi agar tetap rendah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibereskan pemerintah terutama Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru, Perry Warjiyo.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2018, situasi saat ini agak berbeda dengan tahun sebelumnya, sebab sejak awal tahun harga sejumlah komoditas pangan sudah di level tinggi. Harga yang tinggi bertahan sampai saat ini.

Dari tujuh komoditas (beras, gula, minyak goreng, bawang merah, daging sapi, daging ayam dan telur ayam ras), hanya minyak goreng curah yang harganya di bawah HET. Padahal, pemerintah lewat Kemendag telah menetapkan semua pedagang, termasuk di pasar tradisional, harus menjual 7 komoditas pangan sesuai HET sejak 1 April 2018.

Ekonom INDEF Eko Listiyanto memprediksi tekanan terhadap inflasi pangan selama puasa dan lebaran kemungkinan besar akan meningkat. Menurutnya, peningkatan ini juga diakibatkan rupiah melemah, selain karena faktor permintaan yang juga meningkat pesat.

“Kontributor inflasi untuk bulan Mei dan Juni 2018 akan didominasi oleh inflasi bahan makanan; makanan jadi; dan transportasi.” tuturnya saat dihubungi MONITOR, Senin (28/5).

Eko menambahkan, untuk inflasi bulan Mei sebesar 0,35% mtm dan Juni bisa hampir dua kalinya, yaitu 0,65% mtm. Hal tersebut karena berbagai upaya pengendalian harga yang dilakukan pemerintah belum cukup efektif dan sangat terbatas daya jangkau dan pengawasannya.

Sementara untuk menjaga inflasi tetap rendah, meneurtnya dirasa perlu melakukan koordinasi lintas stakeholder. Salah satunya dengan memperkuat early warning systemdi tiap daerah lewat koordinasi dengan Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Dengan demikian, daerah yang mengalami kekurangan pasokan pangan bisa langsung berkoordinasi dengan daerah lain yang kelebihan pasokan.

Sebagaimana telah diungkapkan Perry sendiri yang mengatakan dirinya pro terhadap stabilitas dan pertumbuhan, Eko juga melihat perlunya BI agar tidak sekadar bermain aman dengan hanya mengutak-atik instrumen moneter.

Penutup, menjaga inflasi harus menjadi prioritas saat ini. Di tengah risiko ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi bisa membuyarkan berbagai pencapaian ekonomi di dalam negeri. Bila inflasi melonjak, daya beli masyarakat bakal turun, pertumbuhan ekonomi nasional melambat, angka kemiskinan meningkat.

Lebih dari itu, karena harga pangan berkontribusi sekitar 50% terhadap laju inflasi dan 73,5% terhadap garis kemiskinan, inflasi pangan akan langsung mendongkrak jumlah penduduk miskin yang per September 2017 mencapai 26,58 juta orang atau 10,12% dari populasi.