Ketua MAI dorong Pemprov Riau kembangkan Sektor Ekonomi Maritim

108
Ketua MAI, Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi narasumber utama diskusi Pemerintah Provinsi Riau di Pekanabaru. Selasa (16/4/2019). (foto: Endang Bulustgrafi)

MONITOR, Pekanbaru – Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Rokhmin Dahuri mendorong Provinsi Riau mengembangkan sektor ekonomi baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 2,8 persen atau masih jauh dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5 persen. Salah satu sektor ekonomi baru menurut guru besar kelautan dan ilmu perikanan IPB itu yang dapat dikembangkan adalah ekonomi maritim.

“Jika dibandingkan dengan provinsi lain di indonesia, dari besaran ekonomi provinsi riau berada di rangking lima dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Namun jika kita melihat standar kemajuan internasional masih jauh. Pendapatan masyarakat masih dibawah rata-rata. Pertumbuhan ekonomi hanya 2,8 persen padahal nasional saja sudah 5 persen,” ujar Prof Rokhmin saat menjadi narasumber utama diskusi Pemerintah Provinsi Riau dengan tema “Pembangunan Agro-Maritim berbasis Inovasi 4.0 untuk meningkatkan Daya Saing, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat Riau” di Kantor Gubernur Riau, Pekanabaru. Selasa (16/4/2019).

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Rokhmin Dahuri (foto: Endang Bulustgrafi)

“Riau harus sudah fokus pada pengembangan sektor ekonomi baru dalam hal ini ekonomi maritim, ekonomi kreatif, ekonomi digital, dan lain-lain,” tegas Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.

Menurut Rokhmin, potensi ekonomi maritim di Riau sangat besar terutama sektor perikanan budidaya dengan dukungan sumber daya alam sekaligus potensi pasar yang terbuka lebar baik di dalam maupun di luar negeri.

“Potensi Ekonom akuakultur atau perikanan budidaya di Riau sangat besar. Dari tiga ekosistem berupa ekosistem laut, ekosistem payau, dan ekosistem tawar, untuk potensi ekosistem payau atau tambak saja yang cocok untuk budidaya udang vaname dari data ada sekitar 38.000 ha lahan. Bayangkan jika kita berdayagunakan sekitar 15.000 ha saja, maka potensi ekonominya sudah mencapai 6 triliun. Peluangnya disana,” ujarnya.

Diskusi Pemerintah Provinsi Riau dengan tema “Pembangunan Agro-Maritim berbasis Inovasi 4.0 untuk meningkatkan Daya Saing, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat Riau” di Kantor Gubernur Riau, Pekanabaru. Selasa (16/4/2019). (foto: Endang Bulustgrafi)

Dengan potensi yang besar tersebut, Prof. Rokhmin berharap kerjasama antar semua pihak dalam mengembangkan potensi ekonomi tersebut mulai dari pemerintah baik pusat maupun daerah, pihak swasta, dan para peneliti atau akademisi dalam upaya mengkonversi potensi perikanan budidaya menjadi realistis untuk dikembangkan.

“Itulah pentingnya kerjasama pemerintah, swasta dan akademisi atau peneliti. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur yang mumpuni seperti jalan, penyediaan air bersih. Lalu dukungan dunia perbankan juga. Jangan pelit gelontorkan kredit,” ungkapnya.

Selain mengembangkan sektor ekonomi baru, Prof Rokhmin juga mendorong provinsi riau melakukan hilirisasi industri atau pengolahan. “Jangan andalkan komoditas mentah seperti CPO, karet dan lain-lain. Harus diolah,” tandasnya.

“Langkah lainnya yang tidak kalah penting menurut saya adalah harus mengembangkan kluster-kluster ekonomi seperti kawasan ekonomi khusus dan lain-lain,” pungkasnya.

Gubernur Riau, Syamsuar (foto: Endang Bulustgrafi)

Ditempat yang sama Gubernur Riau, Syamsuar dalam mengatakan saat ini pihaknya tengah menyusun strategi pengembangan ekonomi berbasis hilirisasi industri agar memiliki nilai tambah bagi kesejehteraan masyarakat.

“Terkait potensi dan sumber daya yang ada, seperti sawit dan karet saya kira saat ini paradigmanya harus mulai kita rubah dari komoditas mendtah menjadi barang jadi, agar mendapat nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.