Kementan Ekspor Baby Buncis Super ke Singapura

MONITOR, Jakarta – Pada beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu menekankan perlunya peningkatan ekspor produk pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan peroleh devisa.

Menyambut perintah Mentan, Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan pendampingan intensif terutama peningkatan daya saing produk sehingga produk hortikultura sayuran bisa ekspor.

“Hari ini tepat Lahir Pancasila, kita ekspor baby buncis super ke Singapura. Buncis ini diproduksi Gapoktan Wangi Panggupay yang bermitra dengan eksportir”, ujar Suwandi, Dirjen Hortikultura, saat berada di petani Desa Sunterjaya, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, Jumat (1/6/2018).

Menurut Suwandi, ekspor ini membuktikan komoditas sayuran Indonesia mampu bersaing di luar negeri. Tahun 2017 kita sudah ekspor 93.335 ton sayuran senilai Rp 1,6 triliun.

Untuk Ekspor sayuran ini dilakukan petani bermitra dengan eksportir. Pola kemitraan ini menguntungkan kedua belah pihak, tentu mensejahterakan petani.

“Kita mengharapkan 2018 ekspor sayuran naik jauh lebih tinggi lagi,” harap Suwandi.

Di Bandung Barat, sejak 1995 telah membina Gapoktan Wangi Panggupay memproduksi sayuran berkualitas. Siang hari ini diekspor 3 ton dan sudah rutin dalam setahun ekspor 600-900 ton baby buncis super.

“Secara nasional 2017 kita sudah ekspor 633 ton buncis dan 2018 kita dorong supaya meningkat lagi,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Uung Gumilar menjelaskan bahwa luas panen buncis di Jawa Barat adalah yang terbesar di Indonesia yaitu sebesar 20% dari luas panen nasional.

Khusus untuk Kabupaten Bandung Barat, luas panen buncis pada tahun 2016 mencapai 288 hektar dan meningkat 17% pada tahun 2017 menjadi 336 hektar dengan produksi sebesar 5.000 ton. “Sebagian diekspor dan sisanya dipasarkan dalam negeri,” katanya.

Ulus Firmawan, pemuda tani yang tinggal di sebuah desa yang subur tepatnya di Kampung Gandok Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang dengan jiwa dan semangat yang kuat, gigih dan cerdas sehingga bisa mendorong Gapoktan Wargi Panggupay yang dipimpinnya menjadi pengekspor baby buncis super ke Singapura.

“Untuk ekspor kami menggandeng eksportir yaitu PT. Alamanda Sejati Utama, Fortuna Agro Mandiri serta supplier supermarket lainnya,” ujarnya.

“Kami sudah kerjasama dengan PT. Alamanda Sejati Utama untuk ekspor baby buncis ke Singapura dengan volume pengiriman 1 hingga 1,5 ton per hari. Demikian juga, sudah bekerjasama ekspor dengan PT. Multi Fresh,” pinta Ulus.

Sebagai petani, lanjut Ulus, sangat senang dengan tingginya permintaan baby buncis. Jelas sangat menguntungkan bagi para petani.

Untuk harga buncis super kisaran Rp 5-8 ribu dengan biaya produksi Rp 3 ribu perkg. Sedangkan untuk baby buncis Rp 15-18 ribu dengan biaya Rp 7 ribu perkg dengan komponen besar upah kerja. Dari 1 kg benih, bisa menghasilkan 500-700 kg buncis super atau jika dipanen baby buncis bisa mencapai 700 kg sampai 1 ton.

“Kami menikmati untung karena harga bagus diatas biaya produksi,” akui Ulus.

Ulus mengungkapkan dirinya mulai belajar bertani sejak umur 12 tahun, berpesan kiat-kiat khusus untuk sukses. Untuk petani sayur di Indonesia, terus fokuslah di usaha tani agar bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan kontinu, sehingga mudah memasarkan atau membuka peluang pasar baru.

“Terpenting adalah jangan lupa menerapkan budidaya ramah lingkungan demi masa depan dunia pertanian. Mengelola lahan 500 meter tanam baby buncis pun menghasilkan Rp 5 juta perbulan,” katanya.

Untuk diketahui, ekspor baby buncis juga dilakukan Kelompok tani lainnya. Ketua Kelompok Tani Sinar Mukti, Taufik, di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua menjelaskan bahwa kelompoknya mengirim baby buncis dengan volume 1 ton per hari. Ke depannya, diharapkan ekspor baby buncis terus meningkat agar pendapatan naik dan semakin makmur.