Bisnis Asuransi Syariah Diprediksi Melesat di tahun 2018

Diskusi tentang Menelisik Skema Pembiayaan Syariah Inklusif untuk UMKM

MONITOR, Jakarta – Bisnis berbasis syariah masih cukup potensial digeluti, sebab diprediksi bisnis dengan sistem ini akan tumbuh kuat sepanjang tahun 2018. Tak heran, pelaku bisnis syariah berlomba-lomba mengeluarkan produk syariah demi memenuhi kebutuhan nasabah.

Salah satunya bisnis asuransi. Tidak ketinggalan dari asuransi konvensional, bisnis asuransi syariah kini mulai banyak dilirik masyarakat.

Direktur Utama PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia Mudzakir mengatakan, pihaknya optimistis pergerakan iklim bisnis asuransi syariah bisa tumbuh hingga 10%. Meski angka pertumbuhan itu tidak signifikan, karena terpengaruh kondisi ekonomi nasional yang sedang lesu.

“Apabila mengandalkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan per Maret 2018, maka angka pertumbuhan ada di kisaran 5% hingga 10% dari sisi kontribusi. Sedangkan dari sisi aset mungkin bisa lebih dari itu,” kata Mudzakir pada acara diskusi “Menelisik Skema Pembiayaan Syariah Inklusif bagi UMKM”, Rabu (23/5).

Ia menjelaskan, bahwa pertumbuhan itu disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, masih ada kemungkinan unit syariah atau perusahaan syariah akan bertambah sampai akhir tahun ini.

Kemudian yang kedua, menurut dia, skema bagi hasil produk asuransi berbalut investasi (Paydi) masih dinilai lebih menjanjikan dan tidak terlalu terpengaruh dari fluktuasi pasar saham.

“Selanjutnya, saya optimis bisa tumbuh karena ada dorongan regulasi yang mendukung asuransi syariah. Selain itu masih ada potensi dari bisnis syariah yang belum digarap dari sektor fesyen, hotel dan rumah sakit,” tandasnya.

Untuk diketahui, aset keuangan asuransi syariah per Maret mencapai Rp 42,7 triliun, atau naik 21,3% di bandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 35,2 triliun. Sedangkan kontribusi bruto Rp 4,09 triliun, atau naik 34,9% dari tahun lalu Rp 3,03 triliun. Di periode yang sama pula, pembayaran klaim bruto mencapai Rp 1,22 triliun, atau naik 6% dari tahun sebelumnya sekitar Rp 1,15 triliun.