Bahana akan Antarkan Lebih dari 5 Perusahaan Terbitkan Obligasi

MONITOR, Jakarta – Memasuki semester kedua, sejumlah perusahaan sudah mempersiapkan langkah-langkah untuk ekspansi usaha pada tahun depan. Meski tahun ini daya beli masyarakat hingga semester pertama masih tidak sekuat perkiraan semula, namun pada tahun depan diperkirakan ekonomi akan kembali bergairah, mendekati tahun pemilhan umum yang akan digelar pada 2019. 

PT Bahana Sekuritas , yang dimiliki oleh PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Perseo) ini, menilai pasar saham Indonesia masih menjanjikan, indeks masih berpeluang menembus 6.300 hingga akhir tahun ini, tak heran jika investor lokal dan asing masih berminat untuk mengoleksi saham-saham perusahaan yang baru akan melantai di bursa ataupun saham perusahaan yang sudah lama melantai di bursa. Sejumlah perusahaan tentunya tak mau ketinggalan memanfaatkan momentum ini dengan menerbitkan saham ataupun mencari pendanaan lewat penerbitan obligasi. 

''Pada semester dua ini minat perusahaan untuk menerbitkan saham perdana atau menerbitkan obligasi masih besar, investor juga masih terus mencari saham – saham yang prospektif di pasar,'' kata Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar, disela-sela acara penganugerahan penghargaan di Singapura ( 14 September 2017) . ''Tak ketinggalan, ekspansi usaha melalui non organik growth juga masih akan terjadi pada tahun ini,'' tambah Feb. 

Perusahaan sekuritas pelat merah ini memperkirakan pada semester kedua tahun ini ada lebih dari 3 perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta yang akan menerbitkan saham perdana atau initial public offering (IPO), lebih dari 3 perusahaan yang akan menerbitkan obligasi dengan total nilai sekitar Rp 10 triliun, serta ada perusahaan lokal Indonesia yang akan melakukan ekspansi ke luar negeri. 

Pada semester pertama yang lalu, Bahana Sekuritas sudah membantu lebih dari 3 perusahaan melantai di bursa diantaranya Totalindo Eka Persada, Integra Indocabinet, Buyung Poetra Sembada dengan total penerbitan saham sekitar Rp 1  triliun rupiah. 

Dalam Minggu ini, mengantarkan GMF AeroAsia melantai di bursa dengan total saham yang diperdagangkan 10,9 miliar lembar saham, dengan kisaran harga Rp 390 – 510/ lembar saham. Anak usaha Garuda Indonesia ini memperkirakan akan meraup dana segar sekitar $200 juta – $250 juta, yang akan digunakan untuk ekspansi usaha, pembayaran utang bank serta untuk modal kerja.   

Sedangkan untuk emisi obligasi ada lebih dari 11 perusahaan yang telah menerbitkan obligasi dengan total nilai sekitar Rp 29,5 triliun diantaranya yang terbesar adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan nilai efek yang ditawarkan sebesar Rp 6 triliun, LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) sekitar Rp5,2 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia Rp 5 triliun. Bahana juga berpartisipasi sebagai co-manager untuk penerbitan sukuk global dan Euro bonds milik pemerintah pada semester lalu. 

''Baru-baru ini kami membantu salah satu perusahaan farmasi milik pemerintah yang mengembangkan usahanya ke Arab Saudi, ini merupakan langkah besar bagi Indonesia yang telah mampu mengembangkan sayap ke luar negeri, kedepan akan ada perusahaan lokal kita yang mencari strategic partnerdi pasar regional,'' ungkap Feb.   

Sebagai perusahaan sekuritas milik negara, Bahana juga memberikan konsultasi keuangan bagi sejumlah perusahaan. Masih dalam tahun ini, sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana melakukan optimalisasi atas aset-aset yang dimiliki untuk memangkas beban biaya sehingga perseroan bisa melakukan ekspansi usaha yang lebih produktif serta aksi merger dan akuisisi masih akan meramaikan pasar dalam sisa tahun ini. 

''Tahun depan sejumlah perusahaan sudah berencana akan melantai di bursa dan menerbitkan obligasi pada kuartal pertama, mengantisipasi kegairahan pasar menjelang Pemilu yang geliatnya terhadap perekonomian kemungkinan sudah akan berdampak pada semester kedua, Bahana sudah menerima beberapa mandate dari beberapa perusahaan,'' ungkap Feb. 

Sementara itu, untuk mendukung pembiayaan Infrastruktur, PT Bahana TCW juga turut berperan aktif melalui penerbitan Reksa Dana Penyertaan Terbatas atau yang akrab disebut RDPT. Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia ini telah menerbitkan RDPT pelabuhan senilai $35 juta atau setara dengan Rp 465 miliar. Dana yang dihimpun akan dipakai untuk mengakuisisi areal di sekitar pelabuhan Tanjung Priuk agar dapat direvitalisasi. 

RDPT merupakan produk reksa dana yang ditawarkan maksimal hanya kepada 50 investor saja dan langsung berinvestasi pada proyek-proyek di sektor riil. Umumnya, investor yang diundang adalah institusi. Selain RDPT Pelabuhan, Bahana TCW juga sedang membicarakan rencana penerbitan RDPT Jalan Tol dengan nilai sekitar Rp 5 triliun pada 2018.