Aktivis Rumah Gerakan 98 Puji Kinerja Kementerian ESDM

MONITOR, Jakarta – Disaat publik sedang dihebohkan isu mahar politik 40 Miliar, tanpa ribut-ribut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mencapai ratio elektrifikasi 2017 sebesar 94,91 persen. Capaian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan target yakni 92,75 persen.

Aktivis Rumah Gerakan 98 Sulaiman Haikal mengatakan ini merupakan hal menggembirakan bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang berada diwilayah daerah tertinggal, perbatasan dan pulau terdepan. "Sesuai janji Nawa Cita, paradigma pembangunan saat ini adalah Indonesia sentris. Jadi saat ini masyarakat yang berada dikawasan tersebut sudah dapat menikmati listrik," ujarnya kepada wartawan, Rabu (17/1).

Menurut Haikal, pencapaian rasio tersebut menunjukkan sinergi antara BUMN dan swasta sudah berjalan. "Optimalisasi sumber listrik akan lebih mudah dicapai jika ada kolaborasi antara kementerian, BUMN dan swasta," sambungnya.

Di usia kabinet yang semakin singkat ini, ia mengharapkan agar pemerintah agresif melakukan elektrifikasi di pedesaan, diwilayah daerah tertinggal, perbatasan dan pulau terdepan. “Pemerataan sambungan listrik akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi disebuah wilayah. Dan disaat kita terkejut dengan isu mahar politik 40 Miliar, tanpa gembor-gembor pemerintah tetap bekerja,” ungkapnya.

Secara terpisah, senior advisor dari Infinitum Advisory Fauzan Luthsa mengatakan untuk mencapai target rasio elektrifikasi pada tahun 2018 sebaiknya kementerian ESDM mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

"Sumber alam di Indonesia amat berlimpah. Jika kita fokus pada sumber daya lokal, maka sustainable energy akan dapat kita raih," tambahnya.

Ia mencontohkan, Kelapa merupakan salah satu bentuk sumber energi baru terbarukan (EBT) yang belum dilirik pemerintah. “Kelapa diolah menjadi briket arang kelapa dan mampu menggantikan peran batu bara yang merusak lingkungan dan boros. Briket arang kelapa ini dapat menjadi sumber energi bagi rumah tangga, pembangkit listrik dan industri lainnya. Ini memiliki kandungan kalori yang amat tinggi dan bahan bakunya melimpah di Indonesia,” paparnya.

Terkait elektrifikasi, ia menambahkan, saat ini ada 80.332 rumah yang menyala di daerah terpencil di 5 Provinsi melalui pemberian paket lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE). Di tahun 2018 ini ditargetkan 175.782 rumah menyala di 15 propinsi sehingga seluruh desa di provinsi Maluku dan Papua dapat menyala di malam hari.

“Infrastruktur jalan dan listrik menjadi driver bagi pertumbuhan ekonomi. Produksi masyarakat juga akan semakin meningkat jika kebutuhan lsitrik di wilayahnya tersedia dan stabil,” ujarnya