Airlangga Dorong SDM Indonesia Kuasai Teknologi

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto

MONITOR, Jakarta – Saat ini, sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor utama dalam menopang implementasi revolusi industri keempat. Namun, SDM yang dibutuhkan oleh industri saat ini adalah yang memiliki kompetensi dalam pemanfaatan teknologi digital.

“SDM tidak bisa lepas dari aktivitas industri. Meskipun sekarang sudah memasuki era digital,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Musyawarah Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ke-10, Jakarta, Rabu (25/4).

Terkait hal tersebut, maka Kementerian Perindustrian (Kemenprin) telah menggulirkan berbagai program pendidikan dan pelatihan vokasi guna menyongsong industri 4.0.

“Misalnya, pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” ujar Airlangga.

Hingga saat ini, Kemenperin sudah meluncurkan program vokasi tersebut dalam lima tahap. Wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, serta DKI Jakarta dan Banten. Total industri yang terlibat sebanyak 558 perusahaan dan 1.537 SMK.

“Untuk pengembangan SDM di politeknik, kami juga punya program Skill For Copetitiveness (S4C) yang bekerja sama dengan Swiss,” ungkap Airlangga.

Pada tahap awal, ada empat politeknik milik Kemenperin yang akan dikembangkan dalam kerja sama ini.

Politeknik tersebut, yaitu Politeknik Logam Morowali, Sulawesi Tengah, Politeknik Kayu dan Pengolahan Kayu Kendal, Jawa Tengah, Politeknik Industri Petrokimia Cilegon, Banten, serta Akademi Komunitas Industri Logam Bantaeng, Sulawesi Selatan.

“Seperti di Morowali, tersedia laboratorium metalurgi. Itu lebih bagus dari universitas negeri yang ada saat ini,” tambah Airlangga.

Pasalnya, saat ini Morowali telah menjadi kabupaten di Sulawesi Tengah yang memiliki pertumbuhan ekonomi sangat pesat, dengan mencapai 60 persen atau 12 kali dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Perkembangan wilayah tersebut juga dipengaruhi besar dengan berdirinya Kawasan Industri Morowali, dimana sebagian besar terdiri dari perusahaan smelter nikel yang mampu meningkatkan nilai tambah, menyerap banyak tenaga kerja, dan memberikan devisa negara dari hasil ekspor.

“Produk dari Morowali menjadi salah satu yang terbaik di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Airlangga, pemerintah terus mendorong agar semakin banyak para pengusaha nasional terutama yang tergabung di Apindo dapat terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Implementasi industri digital atau industri 4.0 ini ada di tangan pengusaha. Sedangkan, pemerintah yang membuat roadmapnya,” tutupnya.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia