Pengamat: Secara Logis Seharusnya Partai Berebut Usung Herman Deru

MONITOR, Palembang – Selain di dunia nyata, semarak  pilkada Sumsel juga terlihat di dunia maya. Jika di dunia nyata ramainya kampanye media luar ditandai dengan maraknya alat peraga kampanye luar ruang baik billboard, spanduk, baligho maupun poster, di dunia maya hal itu ditandai dengan ramainya perbincangan warganet mengenai pilkada di hampir setiap saat. Para pendukung kandidat berdebat mengenai program kerja dan kelebihan masing-masing calonnya. Demikian juga satu sama lain mengklaim sebagai yang terbaik dan akan menang dalam kontestasi.

Namun demikian kesemarakan pilkada ini belum sempurna ketika partai politik belum tuntas menyelesaikan persoalan pengusungan kandidat atau koalisi antar-partai. Sementara saat yang sama partai politik dituntut untuk mengusung figur yang bisa diterima publik, bebas korupsi, bersih dari kolusi dan tidak membentuk dinasti atau membangun kekuasaan nepotis. Masalah kandidat sendiri, tidak cukup hanya bisa diterima publik saja namun elektabilitasnya jeblog atau peluang menangnya rendah. Partai poltik dituntut untuk dapat memgusung kandidat yang diterima rakyat tapi juga menang dalam kontes. Satu-satunya cara untuk memgetahui potensi kemenangan seorang figur adalah melalui survei. 

Itulah mengapa hampir setiap partai menjadikan survei sebagai tolak ukur diterima tidaknya seseorang untuk mendaftar.  Melalui survei ilmiah, partai pilitik akan memilih figur yang kredibel, tahu kekurangan dan kelebihannya dan terlihat seberapa besar dan konsisten dukungan rakyat kepadanya. Partai politik yang modern dan maju akan memilih kandidat berdasar pendekatan ilmiah. Memilih kandidat tidak akan berdasar kedekatan emosional apalagi karena uang. Memilih hanya karena dua hal itu hanya akan membawa partai ke jurang kehinaan dan kenistaan serta kekalahan yang menyakitkan.

Analis politik dari Indopolitika Institute, Mus S Galih menyatakan, dalam pilkada Sumsel sudah pasti para pemegang kebijakan di parpol akan menjadikan hasil survei sebagai bahan pertimbangan utama. Apakah seseorang akan diusung atau tidak, bergantung pada hasil survei. Demikian juga dalam hal memilih kandidat mana yang pantas diusung, hasil survei akan berperan nyata. Mus menjelaskan, tidak cukup hanya satu dua kali survei atau satu lembaga survei saja yang jadi acuan. Para penilai di partai pasti akan memperbandingan hasil-hasil survei itu. “Mereka akan melihat kredibilitas lembaga surveinya, kapan berdiri dan bagaimana rekam jejaknya. Lalu mengecek bagaimana metode dan disiplin ilmiahnya juga, ini yang tak kalah penting, sejauh mana konsistensi raihan elektabilitas figur yang disurveinnya,” ujar Mus S Galih dalam dialog santai dengan media di kawasan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, di Palembang, Senin, 18, Desember 2017.

Terkait hasil survei pilkada Sumsel yang telah dirilis banyak lembaga di media massa, Mus menjelaskan, amat mudah bagi partai untuk memutuskan memilih siapa yang bisa diusung. Rumusnya sederhana sekali, jika satu tokoh memiliki elektabilitas selalu tertinggi, bertahan paling atas, selalu menaik capainnya dalam kurun waktu dua belas sampai delapan belas bulan, maka pilihlah tokoh itu. “Matematika pilitiknya jelas, dia pasti menang. Itu hukum besi. Jika parta justru memilih orang yang tidak konsisten elektabilitasnya kadang kedua, kadang ketiga dan jaraknya dengan yang tertinggi berada dua kali margin of error, maka dapat dipastikan partai itu mau kalah, bukan mau menang,” jelasnya.

Saat ditanyakan apakah bereti Herman Deru layak diusung oleh partai-partai polotik itu, karena selalu yang tertinggi leket ailitasnya menurut hamoir semua kembaga survei,  Mus menjawab bergantung kepentingan partainya. “Kalau mau menang ya tunjuk Herman Deru, dia yang tertinggi elektabilitasnya,” pungkasnya.

Belum lama ini Populi Center merilis survei elektabilitas cagub untuk Pilgub Sumsel 2018. Survei yang digelar pada 26 November-6 Desember 2017 dengan sampel 800 responden menemukan 5 besar tokoh yang tertinggi dari aspek popularitas yaitu Herman Deru 88,5%, disusul Syahrial Oesman (86,1%), Ishak Mekki (82,8%), Dodi Reza (73,1%), dan Saifudin Aswari (36,4%). Sementara untuk elektabilitas (Pertanyaan Tertutup), Herman Deru meraih 32,0 persen, Dodi Reza Alex Noerdin 21,4 persen, Ishak Mekki 17,0 %. Saifudin Aswari Rivai 6,9 persen dan Syahrial Oesman 6,1 %. Kandidat lainnya dibawah 2 persen.