Pandeglang Surplus Beras

MONITOR, Pandeglang – Panen melimpah tengah berlangsung di Kabupaten Pandenglang Provinsi Banten, salah satunya di  Desa Gunung Putri Kecamatan Banjar. Tidak kurang dari 70 hektar areal telah siap panen dari luas hamparan 256 hektar yang digarap petani desa ini. 

Demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Riwantoro di sela waktu panen bersama petani dan perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten serta Penyuluh Kecamatan Banjar pada Sabtu (6/1).

Riwantoro menegaskan, dengan luas potensi panen hingga beberapa bulan kedepan di wilayah ini membuktikan jika produksi padi di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang tersedia. “Stok yang tersedia ini dipastikan sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat” tegasnya. 

Dalam kesempatan ini, Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten Budiyatna mengungkapkan bahwa dengan  produktivitas rata-rata 6 ton per hektar pada luasan di Kabupaten Pandeglang mencapai 7.000 hektar, maka bisa menghasilkan 42 ribu ton GKP atau setara 21 ribu ton beras.

“Jika kita hitung kebutuhan konsumsi rata-rata sekitar 105 kg/orang dan jumlah penduduk 1,2 juta jiwa, maka rata-rata per bulan memerlukan sekitar 10.500 ton” ungkapnya. 

Menurutnya kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Pandeglang dapat dipastikan surplus produksi beras. “Disini itu dipastikan surplus, bahkan sanggup memenuhi wilayah lain yang defisit” tambah Budiyatna

Lebih lanjut Budiyatna mengungkapkan bahwa hasil panen yang surplus tersebut secara rutin disalurkan ke beberapa daerah seperti Jakarta, Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, dan Karawang. 

Sementara itu Ketua Gapoktan Cipanas, Atis Sutisna menyebutkan bahwa dalam kondisi panen melimpah seperti saat ini, dia tetap dapat menjual gabah dengan harga yang stabil sebesar Rp.5000/kg gabah kering panen (GKP) dengan tingkat rendemen GKP berkisar 52-54%. 

“Kami bersyukur dalam kondisi panen melimpah ini, harga tidak jatuh” ungkap nya. Atis menngungkapkan bahwa dia menerima bantuan dari Kementerian Pertanian melalui kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) atau lebih dikenal dengan Toko Tani Indonesia (TTI).

Bahkan gapoktan ini telah menyalurkan hingga 72 kali perputaran dari bantuan modal yang diberikan kepada TTI sebagai mitra pemasaran beras nya. Selain itu, Atis juga mendapat keuntungan lebih dari hasil penjual produk turunan beras seperti dedak, menir dan sekam. 

Tercatat, gapoktan ini tidak hanya memasok ke TTI lokal di Pandeglang saja melainkan mampu juga memasok hingga ke Jakarta sebagai upaya membantu stabilisasi harga beras di DKI Jakarta. 

Atis mengatakan, dengan adanya program dari Kementerian Pertanian dirasakan manfaat nya oleh masyarakat dalam membantu memperoleh aksesbilitas beras murah dan berkualitas. 

Sehingga dengan ketersediaan padi yang ada sudah sepatutnya wacana importasi beras sebagaimana diberitakan oleh beberapa media belakangan ini tidak perlu terjadi, tutup Atis.

Advertisementdiskusi publik wagub dki