NTT Berbenah Konsisten Giat menuju Swasembada Pangan

MONITOR, Kupang – Pada tanggal 7 hingga 9 Februari 2018 berkumpulnya para penggiat pembangunan pertanian di NTT melalui rapat koordinasi dan sinkronisasi pembangunan pertanian yang digelar di hotel Sasando Kupang. 

Hadir Kadistan seluruh NTT yaitu dari 22 kab/kota yang disertai dengan pendampingan oleh para Kabid dan petugas upsus terkaitnya yg diperkirakan total hadir 200 orang lebih .

Rakorsin tersebut dibuka oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya dimana seluruh jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (ForKomPimDa) lengkap hadir, hadir pula penanggungjawab Upsus provinsi NTT Ani Andayani dan penangung jawab  wilayah kab/kota seNTT. 

Kadistan Prov NTT Yohanes Tay Ruba mengatakan kenaikan produksi pangan di NTT sangat menggembirakan yaitu kenaikan 15% pada produksi padi dan 17% pada produksi jagung dibandingkan capaian tahun lalu. Pemasukan beras dari luar NTT untuk Rastra dan beras bagi PNS selama 3 tahun terakhir ini terus menurun dari semula 250.000 ton menjadi 120.000 ton dan kini hanya tinggal sekitar 80.000 ton. 

“Itupun sebenarnya masih bisa dipenuhi dari panen tanaman sendiri, karena produksi beras tahun 2017 telah mencapai 1,06 juta ton dimana kebutuhan konsumsinya hanya sekitar 900 ribu ton yaitu dari jumlah penduduk sekitar 5,2 juta orang dengan tingkat konsumsi yang masih cukup tinggi yaitu antara 140 sampai 160 kg per kapita per tahun atau lebih tinggi dari nilai konsumsi rata rata nasional,” kata Yohannes di Kupang, Jumat (9/2/2018).

“Tetapi kini surplus beras tersebut oleh petani sudah menjadi kebiasaan nya ada transaksi ekonomi jual beras antar pedagang sampai dikirim untuk NTB,” sambungnya.

Sementara itu, Gubernur NTT, Frans Lebi Raya menyampaikan terimakasih, keberhasilan capaian tersebut adalah berkah dari Upsus Kementan yang dengan tekun dikawal. Adanya akses mudah dengan pemerintah pusat dan didukung kuat oleh TNI-AD maka capaian tersebut menjadi mungkin terjadi. 

Frans Lebu Raya, menguraikan bahwa NTT sebagai provinsi Jagung, masyarakatnya jangan malu makan jagung. Karena lebih baik Gubernurnya yang menganjurkan makan jagung daripada diminta dokter untuk jangan makan beras karena sakit gula.

“Biar di Adonara sana, di tanah kelahiran saya, Kabupaten Flores Timur, sejak kecil saya makan jagung toh saya jadi Gubernur juga,” kelakarnya.

Menurut Frnas, makan jagung itu tetap bermartabat. Diversifikasi pangan dengan non beras juga menjadi penting untuk mencapai kedaulatan pangan. Ia pun mengingatkan di forum rapat koordinasi ini bahwa sejak jaman Presiden Soekarno, filosofi beliau itu bagus bahwa Indonesia harus tetap berdaulat.

“Kemudian berdikari dalam politik, pangan dan budaya,” tegasnya.