Mahasiswa Banten Apresiasi Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional KH Syam’un

Kakek dari Gubernur Anies Baswedan dianugerahi gelar pahlawan nasional

MONITOR, Cilegon – Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional yang diberikan oleh Presiden Jokowi kepada Brigjen KH Syam’un, pada Kamis (08/11) kemarin, disambut gembira tidak hanya oleh keluarganya, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Banten.

Ahmad Yani, Mahasiswa di salah satu Universitas Swasta di Cilegon mengatakan ia mengapresiasi dan berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada pejuang kelahiran Cilegon pada tahun 1883 tersebut.

“Sebagai orang Banten, saya merasa bangga karena pada akhirnya salah satu putra terbaik dari daerah ini mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Ini membuktikan Presiden Jokowi menghargai para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya, serta mempertaruhkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Ahmad Yani saat dimintai keterangannya, di Kecamatan Celentrang, Kota Cilegon, Jum’at (09/11/2018).

Ahmad Yani menegaskan bahwa KH Syam’un memang layak mendapatkan gelar tersebut, setelah apa yang diberikannya untuk bangsa ini. Dimana sampai akhir hayatnya tetap berusaha untuk membela negara dan menjaga kehormatan bangsa dari ancaman para penjajah.

Ahmad Yani menilai Presiden sudah membuat keputusan yang tepat ketika mensejajarkan KH Syam’un, cucu dari Kiai Wasid, pemimpin perjuangan Geger Cilegon pada 1888 melawan Belanda ini, dengan sultan dari Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dan Ketua Pemerintah Darurat RI Syafurdin Prawiranegara, yang mana lebih dahulu mendapat gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah.

“Kalau kita baca sejarahnya, KH Syam’un itu jangankan saat sehatnya, sedang sakitnya pun tetap berjuang melawan penjajah. Bahkan ketika sudah menduduki jabatan bupati, beliau tetap ikut bergerilya bersama rakyat untuk mengusir para penjajah. Ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap republik ini sungguh luar biasa,” paparnya.

Ahmad Yani menambahkan, bahwa KH Syam’un tidak hanya berkontribusi terhadap kemerdekaan Republik Indonesia lewat jalan pertempuran. Tetapi juga kemajuan pendidikan di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan menjadi pelopor pengajaran Islam tradisional melalui Al-Khairiyah di Cilegon, Banten yang kemudian tersebar di Jawa sampai Sumatera.

“Brigjen KH Syam’un, selain seorang jendral perang, dimana menjadi panglima TKR Divisi 1000/I dan menjadi komandan Brigade I/Tirtayasa periode 1946-1947. Beliau juga seorang ulama dari kalangan pesantren. Yang mana dari pesantren itulah, lahir puluhan ulama yang mengembangkan pendidikan di Indonesia, serta para pejuang tangguh yang ikut serta melawan para penjajah,”tutupnya.