BEM UIN Antasari Kecam Penahanan Aktivis karena Kritisi Program Pemda

MONITOR, Banjarmasin – Isu tentang penahanan seorang aktivis di Kotabaru, Kalimantan Selatan bernama H. Syahidudin (Iid) lantaran status kritisnya di media sosial tentang aktivitas Bagarakan Sahur yang diinisiasi oleh KNPI Kotabaru semakin bergulir.

Kali ini komentar datang dari Budiansyah, aktivis mahasiswa yang sekarang menjabat sebagai Presiden BEM UIN Antasari, Banjarmasin. 

Menurut Budi, penahanan terhadap Iid bukan hanya berlebihan, tapi sudah menciderai demokrasi. "Semacam ada upaya membungkam suara-suara kritis", tuturnya. 

Presiden BEM UIN Antasari Banjarmasin ini menilai bahwa iklim demokrasi di Banua dalam keadaan terancam. Aktivis bicara dibungkam dan dikriminalisasi, iklim investasi dibuat lesu karena monopoli, dan keadilan jauh panggang dari api. 

Sebagai bagian penting dari civil society, Budiansyah menegaskan bahwa BEM UIN Antasari tak akan tinggal diam dan meneguhkan posisinya tegak lurus untuk idealisme dan kebenaran.

Sebelumnya, seorang aktivis, H. Syahiduddin (H. Iid) ditahan oleh Kejaksaan Negeri Kotabaru, Kalimantan Selatan yang menulis status di akun Facebook miliknya mengkritisi soal program Bagarakan Sahur KNPI Kotabaru pada Ramadhan tahun lalu dengan mengatakan bahwa program tersebut tidak ada manfaatnya.