Warga Ghouta Bertahan di Ruang Bawah Tanah yang Hampir Ambruk

MONITOR, Beirut – Ketika tentara Suriah tengah mendorong posisinya untuk masuk lebih jauh ke Ghouta timur, rentetan bom terus menghantam kawasan tersebut. Disisi lain, sekitar 400.000 warga sipil yang tinggal di wilayah tersebut dikabarkan tengah berkumpul di ruang bawah tanah yang gelap dan meringkuk seiring dentuman bom tanpa henti di atas mereka.

Nampak sebuah foto yang dilansir Reuters dan diambil pada Minggu (11/3) menunjukkan dinding-dinding ruang bawah tanah tersebut telah mengalami retak yang cukup parah. Nampak beberapa bagian menonjol ke bawah, diduga efek dari hantaman bom sebelumnya.

"Lihat itu, ini benar-benar tidak bisa dihuni. Bahkan tidak aman untuk memasukkan ayam ke dalamnya. Tidak ada kamar mandi, hanya satu toilet, dan ada 300 orang," kata seorang pria di sebuah tempat penampungan yang terletak di kota Douma, seperti dilansir Reuters.

Seperti sumber-sumeber Reuters sebelumnya, pria tersebut enggan dicantumkan namanya lantaran takut pembalasan dari pihak-pihak yang tak berkenan dengan pernyataannya.

Ya, Presiden Suriah Bashar Al-Assad bersama sekutunya Rusia, melancarkan serangan ke Ghouta timur untuk mengakhiri penguasaan gerilyawan yang ada disana kepada warga sipil. Dan menghentikan tembakan mortir dari arah tersebut ke Damaskus yang tak jauh dari Ghouta.

Namun belakangan intensitas serangan, dikatakan oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, telah membunuh setidaknya 1.160 orang dalam tiga pekan, sekaligus memprovokasi kecaman dari negara-negara Barat dan membuat PBB mengeluarkan permohonan agar menghentikan tindakan tersebut untuk bantuan kemanusiaan.