Terungkap Alasan Warga DKI Tolak Normalisasi Kali

MONITOR, Jakarta – Lambannya Pemprov DKI Jakarta dalam melakukan normalisasi kali bukan tanpa alasan. Belakangan ini diketahui kalau normalisasi kali yang dicanangkan Pemprov DKI ternyata terhambat karena adanya penolakan warga.

Warga menolak normaliasi karena biaya ganti rugi yang ditawarkan Pemprov DKI belum jelas. Eka (47) misalnya, warga yang rumahnya terdampak banjir luapan Ciliwung di jalan Arus, Cawang, Jakarta Timur,‎ menjelaskan bahwa sebenarnya beberapa RT yang ada di bantaran Ciliwung sudah siap pindah karena adanya normalisasi Ciliwung. Namun, karena belum adanya realisasi ganti rugi maka sampai saat ini masih banyak yang tinggal.

"Kami sih dengar akan ada normalisasi, tapi gimana dengan ganti rugi buat kami. Itu yang belum jelas," ujarya.

Menurut Eka, kalau bicara banjir ia dan warga dikampungnya udah tak aneh. Baginya banjir udah menjadi siklus tahunan. Namun boleh dikatakan banjir yang terjadi sekarang dikampungnya adalah yang terbesar.

"Kalau banjir besar baru kali ini dari lima tahun lalu, tapi kalau yang tahunan paling hanya sampai sebetis aja," ucap Eka.

Eka mengatakan, memang untuk permukiman yang di bantaran Sungai Ciliwung masih sering terkena dampak banjir tahunan. Lantaran hal tersebut, rata-rata rumah warga dibangun dua lantai untuk mengamankan perabotan elektronik.

"Paling tidak sekarang sudah tidak kaya dululah, mudah-mudahan enggak ada susulan lagi (banjir), kasihan cucu enggak bisa sekolah," kata Eka.

Selain Eka, Samsuri (43) juga mengatakan hal senada. Menurut dia, ini merupakan banjir terparah setelah lima tahun lalu.

"Posisi rumah saya ini lebih ke atas, biasanya banjir cuma di bawah, di rumah-rumah yang dekat Sungai dan seberang Carrefour," ucap Samsuri warga RT 10 RW 02 Jalan Arus.

Samsuri menceritakan, saat Senin (5/2/2018) pagi, air baru sampai jalan di depan rumhanya dengan ketinggian 15 cm. Namun, setelah magrib, air mulai naik hingga menutup teras rumah dengan ketinggian lebih dari 60 cm.

"Kalau di rumah saya saja sudah segitu, bagaimana yang di bawah. Bisa tinggal atapnya saja kan," ucap Samsuri.

Ia mengatakan, warga jalan Arus khususnya yang di bantaran Ciliwung sudah biasa dengan banjir, namun tidak sampai yang besar seperti saat ini.

"Biasa banjir cetek aja, makanya saat siang diberitahukan mereka enggak mau langsung dievakuasi, malah pilih tinggal di lantai atas rumahnya. Baru saat malam naik mereka minta tolong dijemput petugas," ucap dia‎.