Tekanan Besar Untuk Pemimpin Catalonia

MONITOR, Jakarta – Pemimpin Catalonia Carles Puigdemont, Senin (9/10) mendapat tekanan kuat untuk meninggalkan rencana mengumumkan kemerdekaan wilayahnya dari Spanyol setelah ratusan ribu anggota serikat pekerja turun ke jalan akhir pekan kemarin.

Sebelumnya Spanyol khawatir parlemen Catalan akan mengumumkan kemerdekaannya pada Selasa ini, ketika pemimpin Carles Puigdemony dijadwalkan berbicara di parlemen setelah refrendum 1 Oktober lalu. Dimana pemungutan suara tersebut dianggap ilegal oleh pemerintah Spanyol.

Mendapat dukungan dari demonstran akhri pekan kemarin, Pemerintah akan segera ambil tindakan terkait situasi politik yang terjadi. Wakil Perdana Menteri Spanyol Soraya Saenz de Santamaria bahkan akan memanggil pemerintah Catalan.

"Saya memanggil orang-orang yang masuk akal di pemerintah Catalan… jangan melewati batas karena Anda akan membawa orang-orang bersamamu," katanya dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio COPE, seperti dikutip Reuters, Senin.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy tidak mengesampingkan pemerintah Catalonia dan mengadakan pemilihan jika mereka mengklaim kemerdekaan.

Sikap tersebut diambil lantaran taruhannya cukup tinggi untuk Spanyol, karena bisa saja negara yang mengadopsi demokrasi empat dekade yang lalu itu akan menghadapi krisis politik terbesar.

Kehilangan Catalonia, akan menghilangkan seperlima dari output ekonomi Spanyol dan lebih dari seperempat ekspor. Perputaran perusahaan dan bank-bank yang berbasis di Catalonia sendiri telah memindahkan domisili mereka ke luar wilayah Catalan.

Krisis tersebut juga membuka kembali masa lalu di sebuah negara dimana fasisme adalah memori hidup yang mudah dibangkitkan kembali oleh tampilan nasionalisme yang kuat.