Soal Ledekan ‘Ndeso’ Putra Jokowi, Ini Tanggapan Ketua RMI DKI

MONITOR, Jakarta – Kaesang putra Presiden Jokowi dilaporkan Muhamad Hidayat pasal Penodaan agama dan ujaran kebencian ke kepolisian Bekasi karena mengucapkan kata 'Ndeso' dalam vlog nya yang menjadi viral di medsos.

Menanggapi hal ini, MH. Bahaudin Ketua RMI NU DKI Jakarta (Himpunan Pondok Pesantren di bawah NU) menyampaikan keheranannya kepada awak media disela-sela Rapat persiapan Liga Santri Nasional (LSN) Regional Jakarta pada hari Kamis (6/7/2017).

"Kita ini mengalami 'penyakit akut', yaitu Penyakit senang menganggap remeh hal yang serius dan senang menganggap serius hal yang remeh", Ungkap pria yang biasa disebut Gus Baha ini.

"Bangsa Indonesia ini memiliki problematika krusial yang perlu mendapatkan perhatian serius Seperti Korupsi, terorisme, Radikalisme dan Kemiskinan. Namun, banyak pihak yang justru memandang remeh permasalahan tersebut. Bahkan ada yang menanggapinya dengan main-main. Seperti mengeluarkan Wacana membubarkan KPK dan Densus 88", Tandas Gus Baha.

"Lucunya, kaesang main vlog dan mengeluarkan ledekan dengan kata 'ndeso', ada yang serius melaporkan ke Polisi. Dan lebih aneh lagi polisi menanggapi serius laporan tersebut", sindir Gus Baha sambil tersenyum.

Kata 'Ndeso', Lanjut Bahaudin merupakan kalimat ledekan yang menunjukkan keakraban. Itu bukan berarti ujaran kebencian kepada orang desa. Seperti kata 'kampungan', bukan berarti yang mengucapkan benci kepada orang yang berasal dari Kampung.

"Saat ini, dari tukang sayur hingga Fadli Zon, wakil ketua DPR RI mengomentari masalah ini. Aneh bin ajaib, Masak gara-gara masalah remeh seperti ini, energi bangsa tersedot ke permasalahan yang sama sekali tidak berkaitan masalah keumatan ini", Ucap Gus Baha.

"Bisa dibayangkan kalau gara-gara mengumpat 'ndeso' dan 'kampungan' polisi menindaklanjuti laporan tersebut, maka pekerjaan polisi setiap hari hanya disibukkan dengan menerima dan menindaklanjuti Laporan Pengaduan remeh seperti ini. Polisi sebaiknya perlu memilah laporan yang serius saja", Ungkap Ketua RMI NU ini.

"Masih banyak agenda nasional yang perlu mendapatkan perhatian. Seperti pembubaran HTI, RUU PEMILU, RUU Anti Terorisme, Penolakan Full Day School dll. Saya berharap media juga berperan aktif dan proporsional mengeluarkan pemberitaan agar energi bangsa ini tidak terbuang sia-sia", pungkas Bahaudin.