Rini Soemarno Janji Tak Akan Jerumuskan Pertamina

Menteri BUMN Rini Soemarno saat berorasi di depan massa aksi Bela Pertamina (dok: istimewa)

MONITOR, Jakarta – Ribuan pekerja Pertamina hari ini menggeruduk Kantor Kementerian BUMN di jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kedatangan mereka tak lain menuntut pemerintah agar menghentikan politisasi Pertamina dan upaya menyelamatkan perusahaan berplat merah itu.

Pasalnya, Menteri BUMN Rini Soemarno dikabarkan hendak menjual sebagian aset BUMN termasuk PT Pertamina (Persero). Mengenai tuntutan ini, Rini pun angkat bicara.

Usai menemui perwakilan dari Serikat Pekerja Pertamina, ia kemudian bergegas keluar ruangan dan menemui para pengunjuk rasa yang sudah menunggu di depan gedung.

Rini pun menaiki mimbar orasi, sekaligus menyapa para pengunjuk rasa yang mengusung berbagai atribut seperti bendera merah putih, bendera serikat pekerja, spanduk dan poster.

“Saya baru saja menerima Presiden dan Sekjen Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu. Dialog ini saya yakini merupakan pertanda bahwa kita semua peduli terhadap Pertamina,” ujar Rini.

Rini melanjutkan, dirinya menyayangkan adanya spanduk demonstran yang bertuliskan “Pertamina For Sale”, sebab hal tersebut seolah tak memahami maksud pengalihan wilayah kerja.

“Semua peduli Pertamina, tapi tulisan-tulisan (spanduk) ini, “Pertamina For Sale” tidak tepat. Baca betul surat saya, tolong dikaji untuk kemungkinan pengalihan wilayah kerja. Tapi jangan lupa bahwa kontrol tetap harus di Pertamina,” sambung Rini.

Selanjutnya, ia menegaskan bahwa sebagai pemegang saham perusahaan BUMN, dirinya tidak mungkin tega menjerumuskan nasib Pertamina apalagi seperti menjual asetnya. Di hadapan ribuan massa, ia bahkan menjanjikan akan memberikan kesejahteraan hidup bagi bangsa Indonesia 100 tahun kedepan.

“Kita sebagai pemegang saham tidak mungkin menjerumuskan Pertamina. Tanggungjawab saya adalah bagaimana Pertamina itu sehat untuk 100 tahun ke depan, untuk cucu dan cicit kalian semua,” tegas menteri kelahiran Maryland, Amerika.