Reaksi Politisi Kebon Sirih Dengar Kabar Stadion GBK Dijual

MONITOR, Jakarta – Kabar dijualnya Stadion Gelora Bung Karno (GBK) cukup membuat kaget banyak pihak, tak terkecuali Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI, Gembong Warsono.

Gembong mengatakan kendati kepemilikan lahan Stadion GBK ada ditangan Sekertariat Negara (Sekneg), para politisi Kebon Sirih Ini menilai Stadion GBK menyimpan banyak sejarah olah raga bagi bangsa ini.

“Apalagi nama Bung Karno ikut dihilangkan ini sebenarnya yang menjadi tanda tanya kami. Kok bisa seperti ini,”ungkap Gembong kepada MONITOR, Rabu (9/5).

Diakui Gembong, Sebenarnya sebagai wakil rakyat Jakarta dirinya tak punya hak untuk bertindak ataupun melarang-larang keberadaan Stadion GBK. Sebab sambung Gembong, kepemilikan atau pengelolaan Stadion GBK ada ditangan mensesneg.

“Setahu saya semua pengelolaan Stadion GBK itu ditangani Mensesneg, jadi Pemda DKI tidak punya kewenangan apapun soal keberadaan Stadion GBK ini,”terangnya.

Namun sebagai wakil rakyat Jakarta dan kader PDIP dirinya benar-benar menyayangkan kalau keberadaan Stadion GBK benar-benar dijual apalagi nama Bung Karno yang melekat pada stadion tersebut ikut dihilangkan.

“Bicara nama Bung Karno ikut dihilangkan kami sebagai kader PDIP jelas kecewa sekali,”pungkasnya.

Sekedar diketahui, pembaritaan dijualnya stadion GBK ke tangan Blibli.com menjadi perhatian. Yang lebih mencengangkan lagi nama Bung Karno yang melekat pada stadion kebanggaan rakyat Indonesia tersebut ikut hilang.

Sebelumnya, dikutip media online The Jack, Chief Executive Officer (CEO) Blibli.com, Kusumo Martanto membenarkan pergantian nama GBK menjadi Blibli Arena.

“Perubahan nama Istora Senayan menjadi Blibli Arena menunjukkan totalitas kami untuk mendukung semua kegiatan positif masyarakat Indonesia,” ujar Kusumo di Jakarta, Senin (7/5).

Perubahan nama dari Istora Senayan menjadi Blibli Arena merupakan bentuk penyambutan turnamen Indonesia Open 2018 yang akan berlangsung di tempat tersebut pada 3-8 Juli mendatang.

Turnamen bulu tangkis kelas superseries tersebut kini disokong Blibli.com sebagai sponsor utama, menggantikan Bank Central Asia (BCA) pada Indonesia Open tahun lalu. Dengan demikian, turnamen Indonesia Open tahun ini memiliki nama resmi Blibli Indonesia Open 2018.

“Kami memiliki visi dan misi untuk memberdayakan Indonesia dan mendukung anak muda untuk berprestasi dengan melakukan kegiatan yang positif seperti olahraga bulu tangkis,” tutur dia.

Gedung olahraga yang dibangun pada 24 Agustus 1962 itu memiliki nama resmi Istana Olahraga Gelora Bung Karno. Namun, tempat itu lebih dikenal dengan nama Istora Senayan.

Jelang Asian Games 2018, tepatnya pada September 2016, Istora Senayan direnovasi menjadi lebih modern. Pengerjaan renovasi tuntas pada Januari 2018.

Sebelum direnovasi, Istora dapat menampung sekitar 10.000 penonton. Kursi panjang kayu yang dulu terpasang kemudian diganti dengan kursi single seat sehingga kapasitasnya berubah menjadi 7.120 penonton.

Tak hanya kursi penonton yang berubah, tetapi juga pencahayaan lapangan. Dulu Istora hanya menggunakan lampu gantung.

Kini, dengan teknologi baru, lampu bisa bergerak naik-turun pada ketinggian 9-12 meter dan dapat diatur sesuai kebutuhan. Selain itu, Istora kini dilengkapi pendingin ruangan tipe AHU yang telah disesuaikan dengan corong udara di sisi-sisi atap. Dengan demikian, pendingin ruangan tidak akan memengaruhi arah kok saat di udara.