KLHK Launching Rehabilitasi Hutan dan Lahan Pasca Banjir Garut

MONITOR, Garut – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan “Launching Rehabilitasi Hutan dan Lahan Pasca Bencana” di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut (22/11), yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mizwar, Bupati Garut Rudi Gunawan, Perwakilan dari Kodam III Siliwangi dan Polri serta 500 masyarakat.

Dalam arahannya saat Launching Menteri LHK Siti Nurbaya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah konsisten melakukan rehabilitasi lingkungan, hutan dan lahan di Jawa Barat.

Dikatakan Siti Nurbaya, Jawa Barat dapat menjadi contoh yang baik dalam melakukan rehabilitasi pasca terjadinya bencana banjir bandang. “Jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten, serta masyarakat telah berjuang luar biasa untuk kegiatan rehabilitasi. Kita sadari kegiatan rehabilitasi yang dilakukan bermanfaat untuk menahan erosi, run off, dan banjir”, ucap Menteri Siti Nurbaya.

Menyambut hal itu, Dedi Mizwar menjelaskan pentingnya air dan DAS Cimanuk bagi Jawa Barat. DAS Cimanuk seluas 363.632,71 ha meliputi wilayah administrasi Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, menjadi pemasok air waduk Jati Gede, dan mengairi 90.000 ha lahan pertanian. “Kita harus menjaga DAS Cimanuk, jangan sampai kejadian banjir tahun lalu berulang”, ucap Dedi Mizwar.

Untuk menjaga kualitas sungai, Pemprov Jawa Barat telah mencanangkan gerakan 5T: Tidak menebang pohon di hulu sungai; Tidak menggunduli hutan, Tidak membuang limbah industri ke sungai; Tidak membuang limbah ternak; Tidak membuang limbah rumah tangga; dan Tidak membuang sampah apapun ke sungai.

Rehabilitasi hutan dan lahan menjadi salah satu kebijakan nasional yang sangat relevan untuk menjawab tantangan yang dihadapi daerah-daerah terkait dengan semakin terdegradasinya lingkungan, yang dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor.

Saat ini KLHK tengah menggiatkan kampanye tanam 25 pohon. Kampanye ini menganjurkan satu orang untuk menanam minimal 25 pohon selama hidupnya. Jika hal ini dilakukan 250 juta masyarakat Indonesia, maka permasalahan lahan kritis di Indonesia akan dapat terselesaikan dengan cepat.