Ketika Jonan Bertemu Dahlan Iskan

MONITOR, Surabaya – Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2017, seminar internasional "The 4th Industrial Revolution" yang diinisiasi oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, ternyata juga mempertemukan dua tokoh yang dikenal memiliki komitmen besar dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Kedua tokoh tersebut tak lain adalah Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Baik Jonan maupun Dahlan, keduanya memang tak main-main dalam mendorong pengembangan kendaraan yang ramah lingkungan untuk mendukung mobilitas masyarakat.

Usai menjadi pembicara dalam seminar internasional di FEB Unair tersebut, Jonan dan Dahlan sempat bertemu. Tak kurang dari 15 menit kedua tokoh tersebut berbincang mengenai teknologi kendaraan listrik secara umum hingga mobil listrik merk Tesla yang hingga kini masih digunakan Dahlan.

Obrolan yang berlangsung di halaman kampus Unair itu, dilakukan Jonan sambil melihat dari dekat Tesla milik Dahlan. Tampak Jonan melongok interior mobil produksi AS tersebut.

Menengok kebelakang, semasa menjabat sebagai Menteri BUMN, Dahlan sempat menggagas sebuah mobil listri bernama Selo beserta berbagai macam teknologinya. Namun Selo masih terhalang masalah perizinan. Padahal, mobil listrik yang diyakini berbagai kalangan sebagai kendaraan masadepan, saat itu diakui Dahlan telah diproduksi secara masal di berbagai negara, salah satunya Amerika.

Maka bukan tidak mungkin jika tidak dimulai saat itu, Indonesia akan ketinggalan teknologi mobil listrik. "Sebenarnya saya memikirkan pentingnya Indonesia memproduksi mobil listrik sejak empat tahun lalu," kata Dahlan kala itu mencoba menggambarkan betapa pentingnya pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Tak berhenti di Selo, kemudian mantan Dirut PT PLN tersebut membeli mobil listrik besutan perusahaan Amerika Serikat, Tesla Model S senilai 4 miliar. Diberitakan berbagai media, pembelian supercar bertenaga listrik tersebut dilakukan Dahlan untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia, bahwa negara lain telah melakukan pengembangan yang sedemikian rupa untuk mobil listrik.

Lain lagi dengan Jonan, Mantan Menteri Perhubungan itu kini tengah gencar mendorong pengembangan kendaraan listrik. Tak hanya melalui kebijakan, tapi Jonan juga mencontohkan kepada masyarakat akan pentingnya kendaraan listrik dengan membeli motor listriknya sendiri, Viar Q1 besutan Viar bulan lalu.

Menurut Jonan, Indonesia harus segera mengadopis kehadiran kendaraan listrik, pasalnya generasi masa depan harus mampu menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik dan kemandirian energi bagi negara. "Kalau menggunakan kendaraan listrik, itu kan kalau kita charge (isi baterai), listriknya bisa dihasilkan dari batu bara, gas, air, angin, ada panas bumi. Ini semua adalah produksi dalam negeri, sehingga ketergantungan kita terhadap impor minyak mentah itu diharapkan kalau toh tidak turun, sekurang-kurangnya tidak naik di masa depan," demikian kata Jonan, Senin 30 September 2017 lalu menggambarkan bahwa kendaraan listrik mampu membawa Indonesia menuju kemandirian energi.

Selain kemandirian energi, kendaraan listrik juga diyakini tak menghasilkan emisi karbon sehingga masyarakat juga dapat menikmati udara yang lebih bersih. "Jadi sudah diusulkan perpresnya (soal pembuatan mobil listrik), jadi mudah-mudahan pada suatu hari itu ada peraturan yang melarang penjualan mobil dengan bahan bakar minyak," kata Jonan di lain kesempatan membahas kemungkinan kendaraan listrik besutan dalam negeri mulai turun ke jalan raya di Indonesia.

Sebelum pertemuan dengan Dahlan tersebut, Jonan terhitung telah dua kali menjajal motor listrik, yakni Viar Q1 miliknya, kemudian motor listrik Gesits buatan ITS-Garansindo. "Kita akan terus dorong pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, untuk memperkuat ketahanan energi nasional, lingkungan yang lebih bersih, dan biaya transportasi masyarakat yang lebih efisien," kata Jonan saat menjajal Viar Q1 miliknya September lalu.