Iran: Ancaman Sesungguhnya adalah Campur Tangan AS

MONITOR, Teheran – Selasa (19/7) Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru yang ditujukan kepada Korps Militer dan Garga Revolusi Iran (IRGC) terkait program rudal balistik Teheran. Masuk dalam daftar target sanksi termasuk perusahaan asal Turki dan China lantaran diduga bertindak sebagai perantara.

Sanksi baru itu diumumkan pada hari yang sama dimana Departemen Luar Negeri Iran yang mensahkan kembali kepatuhannya terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi mengatakan, daripada program nuklir Iran, tindakan AS yang demikian lah yang sebenarnya menjadi ancaman untuk negara-negara Timur Tengah.

"Republik Islam Iran yakin bahwa ancaman serius dan nyata terhadap keamanan, setabilitas dan pembangunan di Timur Tengah adalah campur tangan AS dalam urusan internal negara-negara (kawasan), yang dilakukan dengan tujuan khusus untuk mengacaukan situasi dan merongrong keamanan," kata Qassemi dalam sebuah pernyataan resmi, seperti dikutip Sputniknews, Rabu.

Qassemi menambahkan, semua program militer Iran ditujukan untuk mempertahankan keamanan negara, Iran pun tidak pernah memandang kekuatan militernya sebagai cara untuk mengancam negara lain.

Untuk diketahui, pada Juli 2015 Iran, Uni Eropa dan kelompok negara yang disebut P5+1, terdiri dari AS, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris dan China menandatangani Joint Comperhensive Plan of Action (JCPOA) yang mengisyaratkan pencabutan sanksi terkait nuklir ke Iran dengan jaminan bahwa program nuklir Iran akan tetap damai.