Industri Kreatif Diproyeksikan Sumbang Lebih dari Rp 1.000 Triliun

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih

MONITOR, Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan, Kementerian Perindustrian terus mendorong generasi muda untuk menjadi pelaku industri kreatif khususnya dalam bidang kriya dan fesyen.

Upaya ini dilakukan untuk menumbuhkan sektor industri kreatif di dalam negeri agar terus memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Industri kreatif di Indonesia mencatatkan kontribusi yang terus meningkat terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2015, sektor ini menyumbang sebesar Rp 852 triliun, sedangkan pada 2016 mencapai Rp 923 triliun, dan bertambah menjadi Rp 990 triliun di 2017. Tahun 2018 diproyeksi tembus hingga Rp 1.000 triliun.

“Industri kreatif adalah tulang punggung bagi perekonomian Indonesia. Saat ini, pelaku industri kreatif masih didominasi oleh rentang usia di antara 30-59 tahun,” ungkapnya. Untuk itu, perlu peningkatan pengusaha muda kreatif di tengah era ekonomi digital. “Dengan potensi bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia, sudah selayaknya mendorong generasi milenial untuk lebih produktif,” imbuhnya.

Guna mencapai sasaran tersebut, Kemenperin telah melaksanakan kegiatan Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA) sebagai bagian dari program Bali Creative Industry Center (BCIC). “IFCA diselenggarakan untuk menyaring desainer muda dalam bidang kriya dan fesyen yang akan menjadi motor penggerak industri kreatif nasional. Sasaran program ini adalah yang berusia di bawah 30 tahun,” paparnya.

Pendaftaran telah dilakukan pada tanggal 27 September-5 November 2018 dengan jumlah peminat sebanyak 182 peserta yang berasal dari Universitas Udayana, ISI Denpasar, ITB, Telkom University, Universitas Binus, ISI Yogyakarta dan beberapa perguruan tinggi lain.

Dewan juri yang terlibat adalah Ahadiat Joedawinata (Dosen Senior FSRD ITB), Suud Alwi (Praktisi Fashion), Shinta Djiwatampu (Fashion Design Program Director of LaSalle College Jakarta), Arief Budiman (Founder Rumah Sanur), Adolf Siregar (Chief Strategy Consultant Arrbey).

Selanjutnya, dalam pelaksanaan IFCA tahun ini, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin berkolaborasi dengan Taiwan Design Center dalam bidang peningkatan kapasitas desainer melalui workshop yang akan dilaksanakan di Taiwan. “Sebanyak enam desainer terbaik nantinya akan diberangkatkan ke Taiwan untuk mendapatkan workshop desain dan menghadiri Taiwan Golden Pin Design Awards untuk membuka wawasan dan meningkatkan kapasitas mereka,” tambah Gati.

Selain acara IFCA, Ditjen IKM melalui BCIC juga melaksanakan kegiatan Inkubator Bisnis Kreatif yang bekerjasama dengan Universitas Prasetiya Mulya. Melalui program ini, para pelaku IKM kreatif bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnis (scalling-up).

Selain itu, dilaksanakan program Desain Laboratory untuk meningkatkan kapasitas pelaku Industri Kecil dan Menengah Kriya dan Fesyen di Sentra IKM kolaborasi antara desainer dan sentra industri kecil dan menengah untuk menghasilkan desain produk kriya dan fesyen yang inovatif.