Harga Beras di Jakarta Masih Tinggi, Sandiaga Merasa Dibohongi

MONITOR, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, merasa dibohongi oleh PT Food Station. Hal ini terjadi manakala Sandiaga melihat dan mendengar langsung dari pedagang beras kalau harga beras di Jakarta masih tinggi.

"Kebetulan saya masih suka turun ke pasar untuk mengecek harga pangan. Saya keget juga kalau beras masih dijual Rp 11 ribu perliter," ujar pria yang akrab disapa Sandi ini, di Balaikota Jakarta. 

Padahal kata Sandi, seingatnya pada saat menggelar rapat kerja bermasa dengan BUMD yang mengatur soal pangan di Jakarta itu 24 Januari lalu, PT Food Station menyatakan harga beras di Jakarta segera turun.

Selain harga beras, Sandi pun mengatakan para pedagang sempat mengeluhkan tidak stabilnya harga barang pokok seperti daging ayam. Akibatnya pedagang susah mengantisipasi stok kebutuhan dan harga yang dijual.

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Jakarta Monitoring Network (JMN) Achmad Sulhy langsung menyindir sistem yang diklaim PT Food Station Tjipinang Jaya sebagai BUMD pangan milik Pemprov DKI.

Dia menilai sistem peringatan dini atau early warning system yang digembor-gemborkan terkait stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tak lebih hanya untuk pencitraan.

Namun, ujarnya, kenyataan menunjukkan bahwa harga-harga beras terus melambung tinggi. Hal ini diiringi dengan tiadanya kepemilikan stok beras yang mumpuni oleh PT Food Station selama ini. Hal ini di perparah oleh kian menipisnya stok beras yang dimiliki para pedagang di PIBC. Per 31 Januari 2018, stok terakhir beras di PIBC sudah di angka 22.000-an ton.

“Dari berbagai forum, Direksi PT Food Station dengan begitu percaya diri menyusun sistem peringatan dini di ambang batas 25.000 ton stok beras di PIBC. Inilah angka yang dipatok PT Food Station sebagai titik aman terendah menyangkut stok beras di PIBC,” kata Sulhy, Rabu (7/2).

Artinya, kata dia, bila stok beras di PIBC sudah menyentuh angka 25 ribu ton, maka keamanan atau ketahanan pangan Jakarta dalam posisi terancam. Bila diasumsikan kebutuhan beras harian bagi warga Jakarta sebesar 2.500-3.000 ton perhari, maka persediaan 25 ribu ton itu hanya bisa mencukupi kebutuhan warga dalam hitungan hari saja.

Sejak awal menjabat, kata Sulhy, para Direksi PT Food Station ini sesumbar bisa menjaga stok beras tetap di level aman.

Mereka dengan penuh percaya diri merasa stok beras di PIBC tak mungkin sampai ke titikk 25.000 ton. Apalagi, mereka ditopang oleh dana penyertaan modal daerah (PMD) sebesar Rp 300 miliar untuk mempertahankan stok beras.

“Namun, bila ditelisik, melambungnya harga dan menipisnya stok beras di PIBC tahun ini merupakan kenaikan tertinggi dengan stok paling sedikit bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Data yang dirilis PT Food Station di website resminya, per 1 Februari 2018, stok beras di PIBC sekitar 23 ribu ton. Sementara pada 2017 sebesar 34,60 ton, dan 2016 46,31 ton. Sementara itu, harga beras pun melambung tinggi mencapai Rp 11.345/ kg. Bandingkan dengan 2017 atau 2016 yang masing-masing seharga Rp 9.586/ kg dan Rp 9.710/ kg.

Dengan demikian, ujarnya, stok saat ini terendah dalam tiga-empat tahun terakhir. Stok 23 ton ini bukan stok PT Food Station, tapi stok pedagang di PIBC. Harga beras pun tertinggi selama tiga tahun terakhir.