Gelar Diskusi, KOPRI PB PMII Ingin Wujudkan Ekonomi Kreatif

MONITOR, Jakarta – Sebanyak 20 orang pengurus KOPRI PB PMII menggelar diskusi ekonomi kreatif di sekretariat PB PMII, Rabu (11/10). Dalam kegiatan tersebut menghadirkan pelaku bisnis yang sudah memiliki 24 entiras bisnis di berbagai bidang, Witjaksana.  

Menurut Ketua KOPRI PB PMII Septi Rahmawati, hal tersebut sebagai keseriusan dari KOPRI PB PMII untuk membuat ekonomi kreatif. Dimana jika program itu berjalan dengan baik, KOPRI PB PMII diakhir kepengurusan akan mampu menghasilkan 1.000 orang yang mandiri dalam ekonomi.

"Jika hal ini terjadi, tentunya akan berdampak kemandirian organisasi," ungkap Septi kepada wartawan, baru-baru ini.

Ia mengakui, program ekonomi kreatif ini menjadi salah satu dari 14 program unggulan yang akan dilakukan KOPRI PB PMII selama satu periode kepengurusan.

Selain itu berdasarkan pendataan, terdapat lebih dari 20 kader KOPRI yang sudah bergerak di bidang ekonomi kreatif. Namun, masih terkendala pasar.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk memecahkan masalah tersebut KOPRI PB PMII akan membuat KOPRI SHOP secara online, di mana ruang ini untuk bisa menampung hasil ekonomi yang dihasilkan dari kader KOPRI. Serta, bisa membuka pangsa pasar yang lebih luas lagi bagi para kader KOPRI.

Sementara itu Witjaksana mengatakan, politik dan ekonomi seperti benang merah. Benang merah politik dan ekonomi harus jelas. Program nggak jelas dan ada fiksi di antara pengurus. Bahkan, harus ada barometer politis dan barometer politis.

”Di mana pasar dibuka terlebih dahulu untuk pasar bebas. Lalu, pasar tersebut mengetahui produk dibuat oleh PMII atau KOPRI,” jelasnya.

Di Indonesia 90 persen dikuasi oleh produk yang dimuat oleh orang asing. Melihat jumlah umat muslim dan NU jumlahnya cukup banyak. hal yang paling adalah memilih Entitas bisnis yang selalu digunakan setiap hari dengan pesaing dari non-muslim. Hal tersebut harus mulai diterapkan. Selain itu, diakibatkan oleh intruksi dari pemerintah yang tida memihak. Jangan terlalu ribet dengan jenis produk. Minimalnya setiap kampus memiliki produk dagang terlebih.

Dia mengungkapkan, dagangan akan sukses  dengan berbagai bentuk kerjasama. Produknya dipercantik terlebih dahulu, barulah nanti akan ada kerjasama dengan pihak ketiga. Di sisi lain, harus ada riset terkait suatu daerah jika ingin mengangkat makanan tersebut. ”Riset tersebut dilakukan untuk melihat pangsa pasar terlebih dahulu,” pungkasnya.