Anies-Sandi Diminta Tutup Tempat Hiburan Malam Alexis

MONITOR, Jakarta – Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta jadi pusat dari segala bisnis, dari bisnis yang halal, sampai yang harampun banyak bisa dilihat di kota ini, salah satunya adalah bisnis prostitusi. Begitu dikatakan Ketua Umum Gerakan Relawan Jakarta Utara, Mahdi Cholid dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/10).

"Para pekerja seks komersional (PSK) dijadikan mesin mendulang keuntungan, mereka bekerja melayani nasfu para penikmat sahwat," ujar Mahdi. 

Menurutnya, praktik prostitusi di negeri ini memang sudah sangat kronis. Meski kegiatan tersebut sudah banyak dilarang maupun ditentang oleh sebagian masyarakat di banyak tempat, tetap saja banyak individu yang berasal dari berbagai suku maupun agama yang hobi menjalaninya.

"Di DKI jakarta ada tempat yang menjadi legenda prostitusi, dimana tempat ini terdapat kegiatan jual beli hawa nasfu dan sangat  laris manis di tempat tersebut. Dan tempat itu bernama Alexis," terang Mahdi. 

Dia menjelaskan, Hotel Alexis selalu menjadi perbincangan persoalan karena maraknya prostitusi. Dari mitos ada surga dunia di lantai 7, sampai beberapa kali pemda dan anggota DPRD DKI Jakarta menyebut hotel alexis sarangnya prostitusi dan harus ditutup. Akan tetapi sampai sekarang praktek jual beli hawa nafau di Alexis masih saja terus berjalan.

"Kami warga Jakarta merasa bertanya ‘ kenapa lokalisasi kalijodo bisa di berhentikan dan dihilangkan. Sedangkan Alexis tidak bisa diberhentikan praktek prostitusinya?  Apakah Pemda DKI khususnya dinas pariwisata takut atau memang buta mata dan hati karena diduga sudah menerima kiriman uang berlendir berlebel Alexis?" ungkapnya heran. 

Dia mengungkapkan, agenda yang disampaikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno disaat masa kampanye adalah menutup Alexis. Karenanya, saat ini pihaknya menagih janji itu, agar Anies-Sandi mau menjalankan niatnya untuk menutup kegiatan prostitusi yang ada di Alexis.

"Sehingga harapan kami para warga Jakarta Utara bisa melihat lega, karena sarang perzinahan yang akan mendatangkan bencana di Jakarta Utara sudah tidak beroperasi lagi. Untuk itu kami Gerakan Relawan Jakarta Utara akan memberikan Gembok dan rantai kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI  Jakarta  sebagai simbol keseriusan kami menutup tempat maksiat di Jakarta," tutupnya.