Anies Ditantang Tidak Hanya Berani Tutup Alexis

MONITOR, Jakarta – Keberanian Gubernur Jakarta Anies Baswedan menutup tempat hiburan malam Alexis mendapat apresiasi wakil rakyat Jakarta. Bahkan para politisi Kebon Sirih ini menantang Anies untuk bisa menutup keberadan kafe-kafe liar di Ibukota.

"Coba Pak Anies jangan hanya berani tutup alexis, kafe-kafe liar yang menjajakan wanita penghibur banyak di Jakarta. Coba tutup dong,"ungkap Ketua Fraksi Hanura DPRD Jakarta Ongen Sangaji disela-sela acara paripurna, Senin, (2/3)

Dikatakan Ongen, wilayah Ibukota kembali marak prostitusi jalanan yang berkedok di balik usaha warung remang ataupun kafe liar. 

Apalagi keberadaan kafe liar tersebut menjual minumam keras dan menyediakan wanita pramusyahwat berlangsung di jalan umum dan kawasan permukiman sehingga meresahkan masyarakat,” tandasnya.

Apalagi suasana saat ini makin mendekati bulan suci Ramadhan, maka Pemprov DKI harus lebih tegas menertibkan warung remang atau kafe liar yang makin marak di Jakarta.

Ongen-pun membeberkan lokasi daerah yang dijadikan sarang kafe-kafe liar tersebut. Keberadaan warung maksiat itu antara lain berada di kawasan Ciracas, Jatinegara, Pulogadung, Kemayoran, Tanah Abang, dan seabrek lagi lokasi lain.

"Anies jangan menindak yang gede seperti Alexis. Coba yang kecil pun ditindak,"tegasnya.

Tidak itu saja pelacur dengan mejeng di pinggir jalan kian rame di sepanjang Jalan Hayam Wuruk namun tidak pernah ditertibkan.

Menurutnya, Fraksi Hanura sering mendapat laporan masyarakat terhadap munculnya sejumlah warung remang baru di dekat perumahan. “Mereka juga mengeluhkan suara ingar bingar musik dangdut yang berkumandang keras tiap hari dari malam hingga dinihari,” jelas Ongen yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hanura DKI.

Ongen pun meminta Komisi B yang membidani pariwisata agar  memanggil Satpol PP dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk minta pertanggungjawaban. 

“Saya minta ditertibkan. Kalau tidak, awas saja. Ingat ini menjelang bulan puasa. Warga khawatir jika kafe liar itu tidak ditertibkan, akan merusak moral remaja sekitar. Terlebih kafe-kafe itu juga diduga menyediakan wanita penghibur,’’ ancam Ongen. 

Apalagi kata Ongen,  kafe tidak boleh berdiri di tengah lqingkungan warga. Terlebih di kawasan tersebut banyak berdiri sekolah, mulai dari TK, SD, hingga perguruan tinggi.